Tahun 2002,
aku masih berumur 7 tahun, aku tak mengerti apapun tentang keluargaku. Hanya
yang ku tahu mama dengan ayah sudah tak akur, mereka pisah rumah. Mereka hanya bilang
mereka telah terpisahkan oleh perceraian. Dulu aku tak mengerti apa artinya
perceraian itu, jadi aku hanya terima saja. Dengan bertambahnya waktu bertambah
juga usiaku. Akhirnya ku mengerti arti kata tersebut karena aku mulai menyadari
adanya perubahan dalam hidupku. Dulunya sering jalan bersama seluruh keluarga
ku dengan senangnya. Tapi sejak kejadian itu kehidupan ekonomi keluarga sempat
terpuruk. namun mama dengan kegigihannya, dengan kerja kerasnya siang dan
malam, menghidupi 3 anaknya tanpa kenal lelah. Thanks ma. Karena kejadian itu
pula, aku sempat beberapa tahun tak bisa bertemu dengan ayah.
29 september
2008, aku kehilangan sosok ayah untuk selamanya. Di saat aku sudah bertemu
dengan ayah, sudah mulai dekat lagi. Ternyata Allah punya rencana lain. Allah
memanggilnnya begitu cepat. Dia tidak bisa melihat pertumbuhan dan perkembangan
ku. Terakhir ku melihatnya, aku dipeluk dengan rasa kasih sayang olehnya.
Ternyata itu adalah pelukan terakhir. Aku hanya bisa melihat ayah untuk
terakhir kali saat dia sudah terbujur kaku tanpa nyawa. Di saat teman-teman
dengan bangganya menceritakan ayahnya, aku hanya bisa diam dan mendengarkan
tanpa ikut bicara.
26 april
2013 adalah hari tersedih ku selama hidupku. Ternyata cobaan masih ku alami, aku merasa
sangat berat menjalaninya. Aku tahu Allah masih sayang denganku. Allah tahu
kemampuanku. Namun Aku masih terlarut dalam kesedihan walau pada bibirku terucap
kata aku ikhlas atas kehilangan sosok pemimpin dalam keluargaku. Aku ditinggal
kakakku di dunia ini. Aku bingung menjalani hidup ini tanpa bimbingannya. Aku
sangat sayang dengannya. Kenapa aku ditinggal orang yang ku sayangi untuk kedua
kalinya dengan waktu yang begitu cepat.
Terakhir ku melihatnya saat aku memijit punggungnya di rumah sakit.
Ternyata itu adalah pijitan terakhir yang kuberikan. Seminggu sebelum dia
meninggal, dia pernah mengeluh kedinginan denganku dan memeluk ku untuk
menghangatkan badannya. Ku kira hanya sakit biasa, aku hanya merasakan badannya
yang panas, dan mendengarkan suara batuknya yang khas. di rumah sakit yang
pertama salah diagnosa karena dilayani oleh dokter umum. Kakak dipindah ke
rumah sakit yang kedua karena dokter spesialis paru-paru di rumah sakit pertama
lagi sedang keluar kota. Aku baru tahu
penyakit sebenarnya setelah dia meninggal. Karena tanggal 26 sore itu kakak
baru dipindah ke rumah sakit yang kedua tanpa rujukan dari dokter rumah sakit
yang pertama. Sampai kakak dipindah ngak pakai ambulan tapi pakai taksi. Dokter baru mengatakan penyakit kakak sekitar
jam 9 malam. Ternyata penyakitnya sangat berbahaya. Aku ngak menduga-duga kakak
akan meninggalkan semuanya begitu cepat. Kakak masih sangat muda, namun dari
situlah aku mendapat pelajaran bahwa umur itu tak ada yang tahu. Kakak ku punya
banyak impian dalam hidupnya yang beberapa masih belum tercapai. Aku akan
berusaha untuk menggantikan kakak untuk menggapai impian itu. Aku tahu tak ada lagi
yang susah dibangunkan , tak ada lagi yang ngata-ngatain aku pemalas, tak ada
lagi yang bilangin aku sesuatu itu ngak baik, tak ada lagi yang ngelarang aku
jalan-jalan. Aku kangen kakak. Yang paling
aku ingat saat aku pulang les dijemput kakak. Saat perjalanan pulang , kami
melihat seorang cewe yang pakaiannya terbuka banget. Dia bilang sama aku. Kalau
kamu jalan pake pakaian kaya gitu, aku akan langsung suruh pulang. Oh gak usah
pulang aja sekalian. Aku tahu, dia selalu melarang ku karena itu memang ngak
baik. Aku janji akan ingat kata-kata kakak . makasih ka atas semua yang telah
dilakukan kakak untuk ku. Maaf aku biasanya menyusahkan.
Ku harap
kalian tenang di sana. Semoga kalian di tempatkan di tempat yang terbaik. Aku sayang
kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar