Jumat, 11 September 2015
Ku Ingin.......
keinginan berbeda dengan kebutuhan, keinginan terindahku adalah di bawah ini, aku suka berkhayal yang indah-indah walaupun ku tahu tidak semua bisa diwujudkan, maka biarkanlah aku berkhayal.
Ku ingin aku terlihat di lensa kamera di sekeliling padang bunga dandelion
Ku ingin diantara Noctiluca miliaris di malam hari
Ku ingin memandang aurora di langit alaska
Ku ingin menyusuri sungai-sungai di venizia di atas gondola
Ku ingin berada di dalam bianglala terbesar dunia
Ku ingin menemukan jalan kembali di taman
labirin terbesar dunia
Ku ingin menerbangkan balon berwarna-warni ke langit
Ku ingin semua itu kulakukan bersamamu.
Malaria
PARASITOLOGI
MALARIA

Disusun Oleh :
Dessy Sumega Dwi Putri
J1E114055
PROGRAM STUDI S-1 FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015
Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa)
Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) Pengendali Insulin

Disusun Oleh :
Dessy Sumega Dwi Putri
J1E114055
PROGRAM
STUDI S-1 FARMASI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015
Patologi Klinik : Cedera dan Kematian Sel
BAB
II
ISI
II. 1 Pengertian Cedera dan Kematian Sel
Cedera sel (Jejas) merupakan keadaan dimana sel
beradaptasi secara berlebih atau sebaliknya, sel tidak memungkinkan untuk
beradaptasi secara normal.
Nekrosis merupakan salah satu pola dasar kematian sel. Nekrosis terjadi
setelah suplai darah hilang atau setelah terpajan toksin dan ditandai
dengan pembengkakan sel, denaturasi protein dan kerusakan organel. Hal ini dapat
menyebabkan disfungsi berat jaringan (Kumar; Cotran & Robbins, 2007).
Nekrosis adalah kematian sel dan kematian jaringan pada tubuh yang hidup. Nekrosis dapat dikenali karena sel atau jaringan menunjukkan perubahan-perubahan
tertentu baik secara makroskopis maupun mikroskopis. Secara makroskopis
jaringan nekrotik akan tampak keruh (opaque), tidak cerah lagi, berwarna
putih abu-abu. Sedangkan secara mikroskopis, jaringan nekrotik seluruhnya
berwarna kemerahan, tidak mengambil zat warna hematoksilin, sering pucat
(Pringgoutomo, 2002).
Sendiri,
sepi , tanpa ada yang diperbuat. Pikiranku pasti menerawang jauh, mengingat
masalah yang tidak mudah untuk diselesaikan. Aku bukanlah sebongkah batu besar
yang bisa menahan derasnya ombak di pantai. Batupun mengalami erosi,
perlahan-lahan tapi pasti meski berjuta-juta tahun. Aku cuma aku yang merasa sendiri
di tengah gegap gempita perkotaan. Jika tidak ada lagi bahu untuk bersandar,
masih ada lantai untuk bersujud. Menumpahkan tangis di sajadah itu lebih indah.
Kamu,
sosok yang kuharapkan hadir di tengah hidupku. Aku butuh pendamping diri,
mungkin aku sudah menemukannya yaitu kamu. Kamu yang belum menemukannya. Aku
masih belum pantas mendapatkan gelar pendamping diri kamu. Sekarang kamu seakan
menjauhiku. Aku bagai pembawa masalah di hidupmu. Aku hanya berharap kamu
kembali secepatnya.
Langganan:
Komentar (Atom)

