Jumat, 11 September 2015

Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa)





 Tugas Pengenalan Lingkungan Lahan Basah
Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) Pengendali Insulin






Description: 768px-Logo_unlam.jpg


Disusun Oleh :
Dessy Sumega Dwi Putri
J1E114055






PROGRAM STUDI S-1 FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015




Pulau kalimantan merupakan wilayah yang memiliki area lahan basah yang sangat luas. Lahan basah adalah lahan yang digenangi oleh air. Di lahan basah tersebut terdapat banyak keanekaragaman hayati.  Berbagai tumbuhan di lahan basah yang hidup diatasnya termasuk tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan obat.  Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai bahan obat adalah karamunting. Karamunting dapat tumbuh pada berbagai habitat dan jenis tanah. Dibeberapa daerah dikenal dengan nama yang berbeda, di Pekanbaru disebut dengan Kalamunting, di Sumatera Utara dikenal dengan nama Haramonting dan di Jawa Barat dikenal dengan nama Harendong Sabrang. Karamunting di beberapa tempat digunakan sebagai tanaman hias karena warna bunganya yang menarik, tetapi di beberapa tempat lainnya karamunting dianggap sebagai gulma (tanaman pengganggu) karena pertumbuhannya yang sangat cepat.
Penelitian yang dilakukan hingga saat ini menyatakan karamunting memiliki beberapa khasiat diantaranya anti diabetes, diare, luka bakar, dan sakit perut namun masyarakat pedalaman kalimantan banyak yang belum mengetahui khasiat karamunting tersebut. Karamunting yang tumbuh  banyak khususnya di kalimantan selatan selama ini hanya dibiarkan tumbuh liar , jika diolah bagian daunnya bisa dijadikan sebagai obat antidiabetes untuk mengendalikan produksi insulin. Tema yang diangkat adalah karamunting pengendali insulin. Pemilihan tema ini dikarenakan potensi karamunting di lahan basah kalimantan yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal untuk pengobatan penyakit diabetes melitus.
Diabetes melitus merupakan penyakit keturunan namun genetik bukanlah satu-satunya faktor penyebab diabetes, faktor makanan juga turut menjadi penyebab diabetes melitus. Diabetes melitus adalah kondisi dimana konsentrasi glukosa dalam darah secara kronis lebih tinggi daripada nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin atau fungsi insulin tidak efektif. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit akibat dari pola hidup modern (Subroto, 2006).
Diabetes melitus atau biasa disebut kencing manis disebabkan karena kadar glukosa darah meningkat akibat dari ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi hormon insulin dalam jumlah yang cukup, atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang telah dihasilkan oleh pankreas secara efektif. Hormon insulin berfungsi untuk mempertahankan tingkat glukosa darah dengan cara mengubah makanan yang mengandung glukosa menjadi energi. Penderita diabetes melitus mengalami kesulitan dalam mengendalikan kadar glukosa darah mereka saat insulin mereka tidak bekerja dengan baik. Diabetes melitus menyerang siapa saja tanpa mengenal usia. Indonesia memiliki penderita diabetes melitus yang banyak. sebagian besar makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia mengadung kadar gula yang tinggi sehingga sangat rentan untuk terkena penyakit diabetes jika organ pankreas penghasil hormon insulin tidak berfungsi dengan baik. Penyakit diabetes adalah penyakit mematikan ketiga setelah penyakit jantung dan kanker menurut Badan Kesehatan Dunia.
Cara mengatasi diabetes melitus secara medis bisa dilakukan dengan pemberian suntikan insulin secara rutin. Pengobatan medis ini akan sangat memerlukan dana yang sangat banyak untuk penyediaan insulin yang nantinya akan disuntikan ke dalam tubuh. Akan sangat memprihatinkan jika penderita penyakit diabetes adalah mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Jalan satu-satunya adalah pasrah terhadap penyakit yang mematikan ini. Masyarakat desa di pedalaman kalimantan biasanya jarang pergi ke dokter untuk mengecek kesehatannya apalagi untuk pengobatan secara rutin, mereka lebih percaya dengan obat tradisonal yang formulanya diturunkan secara turun-temurun . Oleh sebab itu, akan lebih baik jika karamunting di lahan basah yang berkhasiat sebagai antidiabetes dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat sebagai alternatif pemberian suntikan hormon insulin. Diharapkan penelitian lebih lanjut, tentunya harus memikirkan secara ilmiah bagaimana Karamunting tersebut terjamin bahwa tidak menimbulkan dampak yang buruk jika mengkonsumsinya.
Tumbuhan karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) merupakan salah satu keaneragaman hayati yang harus dikembangkan karena telah dilaporkan sebagai tumbuhan yang memiliki beberapa khasiat, diantaranya anti diabetes, diare, luka bakar, dan sakit perut (Sutomo, 2010).
Tumbuhan Karamunting merupakan perdu berkayu dengan tinggi mencapai 4 meter, menyerupai semak. Letak daun bersilang berhadapan dan tulang daun tiga dari pangkal, bentuk daun oval, ujung dan pangkal meruncing, tepi daun rata, permukaan atas daun mengkilap sedangkan permukaan bawah daun kasar karena memiliki rambut-rambut halus. Panjang daun 5 hingga 7 cm dan lebarnya sekitar 2 hingga 3 cm. Bunga berwarna merah muda keunguan, bentuk majemuk dengan kelopak berlekatan, mahkota bunga lima, butik satu dan kepala putik berbintik hijau. Buah muda berwarna hijau dengan bagian atas dihiasi helain menyerupai kelopak dengan warna yang senada dan bakal buah beruang empat sampai enam, setelah matang buah akan berubah menjadi ungu dengan rasa yang manis. Sistem perakaran tunggang, kokoh di bawah permukaan tanah (Sutomo, 2010).
Tipe stomata tipe anomositik terlihat dengan jelas pada penampang membujur daun, dan pada penampang melintang terdapat karakteristik daun yaitu berupa trikoma di bagian epidermis bawah daun yang sangat banyak, sedangkan di bagian epidermis atas tidak terdapat trikoma. Berkas pembuluh pada penampang melintang batang terletak menyebar di bagian silinder pusat dari batang. Parenkim korteks pada batang tersusun atas sel yang rapat. Berkas pembuluh terdapat pula pada bagian endodermis yang terletak antara sklerenkim dan korteks. Trikoma pada batang juga tampak pada penampang membujur batang. Penampang melintang akar dapat diamati dengan jelas berkas pembuluh menyebar di bagian pusat dan sebagian terdapat di endodermis pada korteks. Penampang melintang menunjukkan adanya serabut akar di bagian terluar dari epidermis (Sutomo, 2010).
Pada penampang melintang akar, epidermis terdiri atas selapis sel yang tersusun dengan rapat. Setelah epidermis terdapat bagian yang disebut korteks yang terdiri atas sel parenkim, lapisan paling dalam dari korteks terdiri atas sebaris sel yang disebut endodermis. Berkas pembuluh terlihat menyebar di bagian tengah silinder pusat, dan sebagian lagi terdapat di bawah endodermis pada korteks. Susunan sel meristem pada akar sangat kompak dan padat. Sistem pembuluh terdapat di bagian tengah dan terlihat epidermis dan endodermis yang terdiri atas selapis sel. Serabut akar terdapat di bagian luar epidermis (Sutomo, 2010)
Hasil pemeriksaan organoleptik tanaman menunjukkan bahwa daun berwarna hijau dengan rasa yang sepat dan kelat, batang berwarna coklat kehijauan, akar berwarna coklat hitam agak merah dan bunga berwarna merah muda keunguan dengan bau yang khas dan rasa yang pahit. Buah berwarna ungu kehitaman setelah masak, berbau khas dan rasanya manis (Sutomo,2010)
Karamunting kodok merupakan Pohon, tinggi tanaman dapat lebih 2 m, membentuk percabangan Warna batang hijau kecoklatan Warna daun hijau (permukaan atas lebih hijau, bagian bawah agak coklat) dengan letak daun berhadapan, bentuk daun elips, dengan tepi daun rata dan pangkal daun asimetris, dan ujung daun runcing, permukaan daun halus, tulang daun bertipe sejajar, ukuran daun lebih kecil dari karamunting padang,  Bunga warna ungu, letak bunga cylindrical. Buah keras dan kecil di tangkai, buah muda berwarna hijau, masak berwarna merah dan masak sekali berwarna hitam Daun dan akar. Karamunting merupakan obat penyakit gula (Krismawati, 2004)

Description: D:\kuliah\semester 2\PLLB\Rose Myrtle ( Rhodomyrtus tomentosa ).jpg
Gambar 1. Karamunting  (Rhodomyrtus tomentosa)

Tabel 1. Hasil pemeriksaan organoleptik tumbuhan karamunting
No
Bagian tanaman
Warna
Bau
Rasa
1
Daun
Hijau
Khas
Sepat, kelat
2
Batang
Coklat kehijauan
Khas
Pahit
3
Akar
Coklat tua
Khas
Pahit
4
Bunga
Merah keunguan
Khas
Pahit
5
Buah
Ungu kehitaman
Khas
Manis
(Sutomo,2010)

Salah satu tumbuhan obat yang sering digunakan oleh masyarakat adalah Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Ait.) Hassk.) yang termasuk ke dalam Famili Myrtaceae dan mempunyai nama internasional Rosemyrtle. Secara tradisional daun tumbuhan ini digunakan sebagai obat cacing pada manusia (Harun & Hoesin, 1988), mengobati luka, kudis, sakit perut, diare, sakit kepala, mencegah infeksi dan pendarahan setelah melahirkan (Burkill, 1966). Buah digunakan sebagai anti bisa, disentri, dan diare (Burkill, 1966) juga dapat dimakan dan dibuat selai di India disebut dengan thaonti (Bailey, 1930). Sedangkan sari akar R. tomentosa digunakan untuk mengobati sakit jantung, mengurangi rasa sakit setelah melahirkan, obat diare, infeksi kulit dan untuk perawatan bekas luka pada kornea mata (Burkill, 1966; Bailey, 1930). Aktivitas ekstrak metanol daun karamunting dan memberikan efek yang signifikan pada penurunan kadar gula darah hewan (Sulistyo. dkk, 2009)
Identifikasi kimia menunjukkan hasil positif terhadap aleuron, tanin, katekol, alkaloid dan saponin. Aktivitas lain tumbuhan karamunting adalah menstimulasi diferensiasi sel-sel osteoblast MC3T3-E1 (Tung et al., 2009). Senyawa yang berperan adalah glikosida antrakuinon. Karamunting mengandung senyawa limonena, β pinena, dan rodomirton (Taurhesia et al., 1987)
Hasil uji identifikasi daun tumbuhan karamunting menunjukkan adanya senyawa golongan aleuron, tanin, katekol, alkaloid dan saponin. Aleuron mengandung vitamin, katekol dan beberapa senyawa golongan saponin berkhasiat sebagai anti mikroba, tanin berkhasiat sebagai astringen. Beberapa senyawa alkaloid berkhasiat sebagai anti diare, anti diabetes, anti mikroba dan anti malaria (Sutomo, 2010). Menurut hasil penelitian, fraksi air dari ekstrak etanol daun karamunting memberikan efek yang terbaik dalam penurunan kadar gula darah mencit putih diabetes (Sinata, 2011). Oleh karena itu, fraksi air daun karamunting ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi fitofarmaka.
Tabel 2. Hasil uji identifikasi senyawa kimia daun karamunting
No
Komponen
Hasil
1
Aleuron
Positif
2
Pati
Negatif
3
Samak/tanin
Positif
4
Katekol
Positif
5
1,8 dioksiantrakinon
Negatif
6
Karbohidrat (Glukosa &
Galaktosa)
Negatif
7
Alkaloid
Positif
8
Saponin
Positif
(Sutomo,2010)
karamunting memiliki beberapa khasiat diantaranya anti diabetes, diare, luka bakar, dan sakit perut. Potensi karamunting di lahan basah kalimantan  masih belum dimanfaatkan secara maksimal untuk pengobatan penyakit diabetes melitus. Karamunting yang tumbuh  banyak khususnya di kalimantan selatan selama ini hanya dibiarkan tumbuh liar , jika diolah bagian daunnya bisa dijadikan sebagai obat antidiabetes untuk mengendalikan produksi insulin karena mengandung alkaloid. Melihat potensi ini maka sangat diperlukan pengembangan penelitian selanjutnya tentang kandungan khasiat obat karamunting dan pemanfaatan daun karamunting secara maksimal untuk pengobatan tradisional.

Kesimpulan
Simplisia daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) mengandung senyawa aleuron, tanin, katekol, alkaloid, dan saponin. Alkaloid dari karamunting menyebabkan karamunting mampu mengendalikan insulin karena alkaloid sebagai anti diabetes.




Daftar Pustaka

Bailey, L. H. 1930. The Standard Cyclopedia Of Holticulture (Vol III). The Macmillan Company. New York.

Burkill, I. H. 1966. A Dictionary Of The Economic Product Of Malay Peninsula (Vol II). Kuala Lumpur: Government of Malaysia and Singapore by the Ministry of Agriculture and cooperatives.

Harun, S. dan N. Hoesin. 1988. Skrining Fitokimia Tanaman Obat Asli Di Sumatera Barat, Rusdi (Ed.). Tetumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Padang: Pusat penelitian Universitas Andalas.

Krismawati, A dan M. Sabran. 2004. Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Obat Spesifik Kalimantan Tengah. Buletin Plasma Nutfah 1: 16-23.

Sinata, N. 2011. Efek Penurunan Gula Darah dari Fraksi Air Ekstrak Etanol Daun Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (Ait.) Hassk.) pada Mencit Putih Jantan Diabetes. (Skripsi Sarjana Farmasi). Padang: Fakultas Farmasi Universitas Andalas.

Subroto, A. 2006. Ramuan Herbal untuk Diabetes Melitus. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sulistyo, N.H, Hernawaty, F., Shafwatunnida, L., Rusida E.R., & Rahman, M.A.. 2007. Uji Aktivitas Daun Karamunting (Rhodomyrtus Tomentosa) Sebagai Obat Diabetes Melitus Di Daerah Pelaihari Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan.

Sutomo., Arnida., F. Hernawati., dan M. Yuwono. 2010. Kajian Farmakognostik Simplisia Daun Karamunting (Rhodomyrtus Tomentosa) Asal Pelaihari Kalimantan Selatan. Sains Dan Terapan Kimia 1: 38 – 50.

Taurhesia, S, I. Soediro & A. G. Suganda. 1987. Pemeriksaan Flavonoid dan Minyak Atsiri Daun Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa W.Ait, Myratceae) Dept. Farmasi ITB.

Tung, NH, Ding Y, Choi EM, Van Kiem P, Van Minh C dan Kim YH. 2009. New anthracene glycosides from Rhodomyrtus tomentosa stimulate osteoblastic differentiation of MC3T3- E1 cells. U.S. National Library of Medicine and the National Institutes of Health.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar