Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) Pengendali Insulin

Disusun Oleh :
Dessy Sumega Dwi Putri
J1E114055
PROGRAM
STUDI S-1 FARMASI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015
Pulau
kalimantan merupakan wilayah yang memiliki area lahan basah yang sangat luas. Lahan
basah adalah lahan yang digenangi oleh air. Di lahan basah tersebut terdapat
banyak keanekaragaman hayati. Berbagai
tumbuhan di lahan basah yang hidup diatasnya termasuk tumbuhan yang berpotensi
sebagai bahan obat. Salah satu tumbuhan
yang berpotensi sebagai bahan obat adalah karamunting. Karamunting
dapat tumbuh pada berbagai habitat dan jenis tanah. Dibeberapa daerah dikenal
dengan nama yang berbeda, di Pekanbaru disebut dengan Kalamunting, di Sumatera
Utara dikenal dengan nama Haramonting dan di Jawa Barat dikenal dengan nama
Harendong Sabrang. Karamunting di beberapa tempat digunakan sebagai tanaman
hias karena warna bunganya yang menarik, tetapi di beberapa tempat lainnya
karamunting dianggap sebagai gulma (tanaman pengganggu) karena pertumbuhannya
yang sangat cepat.
Penelitian yang
dilakukan hingga saat ini menyatakan karamunting memiliki beberapa khasiat
diantaranya anti diabetes, diare, luka bakar, dan sakit perut namun masyarakat
pedalaman kalimantan banyak yang belum mengetahui khasiat karamunting tersebut.
Karamunting yang tumbuh banyak khususnya
di kalimantan selatan selama ini hanya dibiarkan tumbuh liar , jika diolah
bagian daunnya bisa dijadikan sebagai obat antidiabetes untuk mengendalikan
produksi insulin. Tema yang diangkat adalah karamunting pengendali insulin.
Pemilihan tema ini dikarenakan potensi karamunting di lahan basah kalimantan
yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal untuk pengobatan penyakit
diabetes melitus.
Diabetes melitus merupakan penyakit keturunan namun
genetik bukanlah satu-satunya faktor penyebab diabetes, faktor makanan juga
turut menjadi penyebab diabetes melitus. Diabetes melitus adalah kondisi dimana
konsentrasi glukosa dalam darah secara kronis lebih tinggi daripada nilai
normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin atau fungsi insulin
tidak efektif. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit akibat dari pola hidup
modern (Subroto, 2006).
Diabetes melitus
atau biasa disebut kencing manis disebabkan karena kadar glukosa darah
meningkat akibat dari ketidakmampuan pankreas untuk memproduksi hormon insulin
dalam jumlah yang cukup, atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang telah
dihasilkan oleh pankreas secara efektif. Hormon insulin berfungsi untuk
mempertahankan tingkat glukosa darah dengan cara mengubah makanan yang
mengandung glukosa menjadi energi. Penderita diabetes melitus mengalami
kesulitan dalam mengendalikan kadar glukosa darah mereka saat insulin mereka
tidak bekerja dengan baik. Diabetes melitus menyerang siapa saja tanpa mengenal
usia. Indonesia memiliki penderita diabetes melitus yang banyak. sebagian besar
makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia mengadung kadar gula yang tinggi
sehingga sangat rentan untuk terkena penyakit diabetes jika organ pankreas
penghasil hormon insulin tidak berfungsi dengan baik. Penyakit diabetes adalah
penyakit mematikan ketiga setelah penyakit jantung dan kanker menurut Badan
Kesehatan Dunia.
Cara mengatasi
diabetes melitus secara medis bisa dilakukan dengan pemberian suntikan insulin
secara rutin. Pengobatan medis ini akan sangat memerlukan dana yang sangat
banyak untuk penyediaan insulin yang nantinya akan disuntikan ke dalam tubuh.
Akan sangat memprihatinkan jika penderita penyakit diabetes adalah mereka yang
kurang mampu secara ekonomi. Jalan satu-satunya adalah pasrah terhadap penyakit
yang mematikan ini. Masyarakat desa di pedalaman kalimantan biasanya jarang
pergi ke dokter untuk mengecek kesehatannya apalagi untuk pengobatan secara rutin,
mereka lebih percaya dengan obat tradisonal yang formulanya diturunkan secara
turun-temurun . Oleh sebab itu, akan lebih baik jika karamunting di lahan basah
yang berkhasiat sebagai antidiabetes dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh
masyarakat sebagai alternatif pemberian suntikan hormon insulin. Diharapkan
penelitian lebih lanjut, tentunya harus memikirkan secara ilmiah bagaimana
Karamunting tersebut terjamin bahwa tidak menimbulkan dampak yang buruk jika
mengkonsumsinya.
Tumbuhan
karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) merupakan salah satu keaneragaman
hayati yang harus dikembangkan karena telah dilaporkan sebagai tumbuhan yang
memiliki beberapa khasiat, diantaranya anti diabetes, diare, luka bakar, dan
sakit perut (Sutomo, 2010).
Tumbuhan
Karamunting merupakan perdu berkayu dengan tinggi mencapai 4 meter, menyerupai
semak. Letak daun bersilang berhadapan dan tulang daun tiga dari pangkal,
bentuk daun oval, ujung dan pangkal meruncing, tepi daun rata, permukaan atas
daun mengkilap sedangkan permukaan bawah daun kasar karena memiliki
rambut-rambut halus. Panjang daun 5 hingga 7 cm dan lebarnya sekitar 2 hingga 3
cm. Bunga berwarna merah muda keunguan, bentuk majemuk dengan kelopak
berlekatan, mahkota bunga lima, butik satu dan kepala putik berbintik hijau.
Buah muda berwarna hijau dengan bagian atas dihiasi helain menyerupai kelopak
dengan warna yang senada dan bakal buah beruang empat sampai enam, setelah
matang buah akan berubah menjadi ungu dengan rasa yang manis. Sistem perakaran
tunggang, kokoh di bawah permukaan tanah (Sutomo, 2010).
Tipe stomata
tipe anomositik terlihat dengan jelas pada penampang membujur daun, dan pada
penampang melintang terdapat karakteristik daun yaitu berupa trikoma di bagian
epidermis bawah daun yang sangat banyak, sedangkan di bagian epidermis atas
tidak terdapat trikoma. Berkas pembuluh pada penampang melintang batang
terletak menyebar di bagian silinder pusat dari batang. Parenkim korteks pada
batang tersusun atas sel yang rapat. Berkas pembuluh terdapat pula pada bagian
endodermis yang terletak antara sklerenkim dan korteks. Trikoma pada batang
juga tampak pada penampang membujur batang. Penampang melintang akar dapat
diamati dengan jelas berkas pembuluh menyebar di bagian pusat dan sebagian
terdapat di endodermis pada korteks. Penampang melintang menunjukkan adanya
serabut akar di bagian terluar dari epidermis (Sutomo, 2010).
Pada penampang melintang akar, epidermis terdiri
atas selapis sel yang tersusun dengan rapat. Setelah epidermis terdapat bagian
yang disebut korteks yang terdiri atas sel parenkim, lapisan paling dalam dari
korteks terdiri atas sebaris sel yang disebut endodermis. Berkas pembuluh
terlihat menyebar di bagian tengah silinder pusat, dan sebagian lagi terdapat
di bawah endodermis pada korteks. Susunan sel meristem pada akar sangat kompak
dan padat. Sistem pembuluh terdapat di bagian tengah dan terlihat epidermis dan
endodermis yang terdiri atas selapis sel. Serabut akar terdapat di bagian luar
epidermis (Sutomo, 2010)
Hasil
pemeriksaan organoleptik tanaman menunjukkan bahwa daun berwarna hijau dengan
rasa yang sepat dan kelat, batang berwarna coklat kehijauan, akar berwarna
coklat hitam agak merah dan bunga berwarna merah muda keunguan dengan bau yang
khas dan rasa yang pahit. Buah berwarna ungu kehitaman setelah masak, berbau
khas dan rasanya manis (Sutomo,2010)
Karamunting kodok merupakan Pohon, tinggi tanaman
dapat lebih 2 m, membentuk percabangan Warna batang hijau kecoklatan Warna daun
hijau (permukaan atas lebih hijau, bagian bawah agak coklat) dengan letak daun
berhadapan, bentuk daun elips, dengan tepi daun rata dan pangkal daun
asimetris, dan ujung daun runcing, permukaan daun halus, tulang daun bertipe
sejajar, ukuran daun lebih kecil dari karamunting padang, Bunga warna ungu, letak bunga cylindrical.
Buah keras dan kecil di tangkai, buah muda berwarna hijau, masak berwarna merah
dan masak sekali berwarna hitam Daun dan akar. Karamunting merupakan obat
penyakit gula (Krismawati, 2004)

Gambar 1. Karamunting
(Rhodomyrtus tomentosa)
Tabel
1.
Hasil pemeriksaan organoleptik tumbuhan karamunting
No
|
Bagian tanaman
|
Warna
|
Bau
|
Rasa
|
1
|
Daun
|
Hijau
|
Khas
|
Sepat,
kelat
|
2
|
Batang
|
Coklat
kehijauan
|
Khas
|
Pahit
|
3
|
Akar
|
Coklat
tua
|
Khas
|
Pahit
|
4
|
Bunga
|
Merah
keunguan
|
Khas
|
Pahit
|
5
|
Buah
|
Ungu
kehitaman
|
Khas
|
Manis
|
(Sutomo,2010)
Salah satu
tumbuhan obat yang sering digunakan oleh masyarakat adalah Karamunting (Rhodomyrtus
tomentosa (Ait.) Hassk.) yang termasuk ke dalam Famili Myrtaceae dan
mempunyai nama internasional Rosemyrtle. Secara tradisional daun tumbuhan
ini digunakan sebagai obat cacing pada manusia (Harun & Hoesin, 1988), mengobati
luka, kudis, sakit perut, diare, sakit kepala, mencegah infeksi dan pendarahan
setelah melahirkan (Burkill, 1966). Buah digunakan sebagai anti bisa, disentri,
dan diare (Burkill, 1966) juga dapat dimakan dan dibuat selai di India disebut
dengan thaonti (Bailey, 1930). Sedangkan sari akar R. tomentosa digunakan
untuk mengobati sakit jantung, mengurangi rasa sakit setelah melahirkan,
obat diare, infeksi kulit dan untuk perawatan bekas luka pada kornea mata
(Burkill, 1966; Bailey, 1930). Aktivitas ekstrak metanol daun
karamunting dan memberikan efek yang signifikan pada penurunan kadar gula darah
hewan (Sulistyo. dkk, 2009)
Identifikasi kimia menunjukkan hasil positif terhadap aleuron, tanin,
katekol, alkaloid dan saponin. Aktivitas lain tumbuhan karamunting
adalah menstimulasi diferensiasi sel-sel osteoblast MC3T3-E1 (Tung et al.,
2009). Senyawa yang berperan adalah glikosida antrakuinon. Karamunting
mengandung senyawa limonena, β pinena, dan rodomirton (Taurhesia et al., 1987)
Hasil uji identifikasi daun tumbuhan karamunting
menunjukkan adanya senyawa golongan aleuron, tanin, katekol, alkaloid dan
saponin. Aleuron mengandung vitamin, katekol dan beberapa senyawa golongan
saponin berkhasiat sebagai anti mikroba, tanin berkhasiat sebagai astringen.
Beberapa senyawa alkaloid berkhasiat sebagai anti diare, anti diabetes, anti
mikroba dan anti malaria (Sutomo, 2010). Menurut hasil penelitian, fraksi air
dari ekstrak etanol daun karamunting memberikan efek yang terbaik dalam
penurunan kadar gula darah mencit putih diabetes (Sinata, 2011). Oleh karena
itu, fraksi air daun karamunting ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi
fitofarmaka.
Tabel 2.
Hasil uji identifikasi senyawa kimia daun karamunting
No
|
Komponen
|
Hasil
|
1
|
Aleuron
|
Positif
|
2
|
Pati
|
Negatif
|
3
|
Samak/tanin
|
Positif
|
4
|
Katekol
|
Positif
|
5
|
1,8
dioksiantrakinon
|
Negatif
|
6
|
Karbohidrat
(Glukosa &
Galaktosa)
|
Negatif
|
7
|
Alkaloid
|
Positif
|
8
|
Saponin
|
Positif
|
(Sutomo,2010)
karamunting
memiliki beberapa khasiat diantaranya anti diabetes, diare, luka bakar, dan
sakit perut. Potensi karamunting di lahan basah kalimantan masih belum dimanfaatkan secara maksimal untuk
pengobatan penyakit diabetes melitus. Karamunting yang tumbuh banyak khususnya di kalimantan selatan selama
ini hanya dibiarkan tumbuh liar , jika diolah bagian daunnya bisa dijadikan
sebagai obat antidiabetes untuk mengendalikan produksi insulin karena
mengandung alkaloid. Melihat potensi ini maka sangat diperlukan pengembangan
penelitian selanjutnya tentang kandungan khasiat obat karamunting dan
pemanfaatan daun karamunting secara maksimal untuk pengobatan tradisional.
Kesimpulan
Simplisia
daun karamunting (Rhodomyrtus
tomentosa) mengandung
senyawa aleuron, tanin, katekol, alkaloid, dan saponin. Alkaloid dari
karamunting menyebabkan karamunting mampu mengendalikan insulin karena alkaloid
sebagai anti diabetes.
Daftar Pustaka
Bailey, L. H.
1930. The Standard Cyclopedia Of Holticulture (Vol III). The Macmillan
Company. New
York.
Burkill, I. H.
1966. A Dictionary Of The Economic Product Of Malay Peninsula (Vol II).
Kuala Lumpur: Government of Malaysia and Singapore by the Ministry of
Agriculture and cooperatives.
Harun, S. dan N.
Hoesin. 1988. Skrining Fitokimia Tanaman Obat Asli Di Sumatera Barat,
Rusdi (Ed.). Tetumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat. Departemen Pendidikan
dan kebudayaan. Padang: Pusat penelitian Universitas Andalas.
Krismawati,
A dan M. Sabran. 2004. Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Obat Spesifik
Kalimantan Tengah. Buletin
Plasma Nutfah 1: 16-23.
Sinata, N. 2011.
Efek Penurunan Gula Darah dari Fraksi Air Ekstrak Etanol Daun Karamunting
(Rhodomyrtus tomentosa (Ait.) Hassk.) pada Mencit Putih Jantan Diabetes.
(Skripsi Sarjana Farmasi). Padang: Fakultas Farmasi Universitas Andalas.
Subroto, A.
2006. Ramuan Herbal untuk Diabetes Melitus. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sulistyo, N.H,
Hernawaty, F., Shafwatunnida, L., Rusida E.R., & Rahman, M.A.. 2007. Uji
Aktivitas Daun Karamunting (Rhodomyrtus Tomentosa) Sebagai Obat
Diabetes Melitus Di Daerah Pelaihari Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut
Kalimantan Selatan.
Sutomo.,
Arnida., F. Hernawati., dan M. Yuwono. 2010. Kajian Farmakognostik Simplisia Daun Karamunting (Rhodomyrtus Tomentosa)
Asal Pelaihari Kalimantan Selatan. Sains Dan Terapan Kimia 1: 38 –
50.
Taurhesia, S, I.
Soediro & A. G. Suganda. 1987. Pemeriksaan Flavonoid dan Minyak
Atsiri Daun Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa W.Ait, Myratceae) Dept.
Farmasi ITB.
Tung, NH, Ding
Y, Choi EM, Van Kiem P, Van Minh C dan Kim YH. 2009. New anthracene
glycosides from Rhodomyrtus tomentosa stimulate osteoblastic
differentiation of MC3T3- E1 cells. U.S. National Library of
Medicine and the National Institutes of Health.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar