Sendiri,
sepi , tanpa ada yang diperbuat. Pikiranku pasti menerawang jauh, mengingat
masalah yang tidak mudah untuk diselesaikan. Aku bukanlah sebongkah batu besar
yang bisa menahan derasnya ombak di pantai. Batupun mengalami erosi,
perlahan-lahan tapi pasti meski berjuta-juta tahun. Aku cuma aku yang merasa sendiri
di tengah gegap gempita perkotaan. Jika tidak ada lagi bahu untuk bersandar,
masih ada lantai untuk bersujud. Menumpahkan tangis di sajadah itu lebih indah.
Kamu,
sosok yang kuharapkan hadir di tengah hidupku. Aku butuh pendamping diri,
mungkin aku sudah menemukannya yaitu kamu. Kamu yang belum menemukannya. Aku
masih belum pantas mendapatkan gelar pendamping diri kamu. Sekarang kamu seakan
menjauhiku. Aku bagai pembawa masalah di hidupmu. Aku hanya berharap kamu
kembali secepatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar