PARASITOLOGI
MALARIA

Disusun Oleh :
Dessy Sumega Dwi Putri
J1E114055
PROGRAM STUDI S-1 FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015
A. Definisi
Malaria
Penyakit
malaria adalah penyakit menular yang banyak di derita oleh penduduk di
daerah tropis dan subtropis. Penyakit malaria banyak ditemukan
pada penduduk yang tinggal di daerah rawa. Vektor yang berperan
dalam penularan penyakit malaria adalah nyamuk anopheles. Plasmodium yang menyebabkan
penyakit malaria berasal dari spesies Plasmodium
falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium
malaria (Hiswani, 2004).
Malaria adalah
penyakit menular yang menyerang dalam bentuk infeksi akut ataupun kronis.
Malaria disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus plasmodium, yang dapat
ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles. Istilah malaria diambil dari dua
kata dari bahasa Italia, yaitu Mal (buruk) dan Area (udara) atau udara buruk,
karena dahulu banyak terdapat didaerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk.
Penyakit ini juga mempunyai beberapa nama lain seperti demam roma, demam rawa,
demam tropik, demam pantai, demam charges, demam kura dan paludisme (Prabowo,
2004).
B.
Klasifikasi
Nyamuk Anopheles sp.
Klasifikasi nyamuk Anopheles sp. adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Culicidae
Sub famili : Anophelini
Genus : Anopheles
Spesies : Anopheles sp.
(Borror, 1992)
C. Morfologi Nyamuk Anopheles
Telur Anopheles sp berbentuk seperti
perahu yang bagian bawahnya konveks dan bagian atasnya konkaf dan diletakkan
satu per satu di atas permukaan air serta memiliki sepasang pelampung yang
terletak di bagian lateral. Di tempat
perindukan, larva Anopheles mengapung sejajar dengan permukaan air dengan
bagian badan yang khas yaitu spirakel pada bagian posterior abdomen, batu palma
pada bagian lateral abdomen, dan “tergal plate” pada bagian tengah setelah dorsal
abdomen (Gambar 1). Pada stadium pupa
terdapat tabung pernafasan yang disebut respiratory trumpet yang berbentuk
lebar dan pendek yang berfungsi untuk mengambil O2 dari udara. Stadium dewasa Anophelini jantan dan betina
memiliki palpi yang hampir sama dengan panjang probosisnya, hanya pada nyamuk
jantan palpi pada bagian apikal berbentuk gada yang disebut club form sedangkan
pada nyamuk betina ruas itu mengecil. Bagian posterior abdomen agak sedikit lancip. Kosta dan vena 1 atau sayap pada bagian
pinggir ditumbuhi sisik-sisik yang berkelompok sehingga membentuk belang-belang
hitam putih (Safar, 2010).

Gambar 1. Larva Anopheles sp: (1. a) Thorax, (1.b)
Palmate hairs, dan (1. c)Ventralbrush.(Sumber:http://fr.impactmalaria.com/web/formation_paludisme/morphologie_taxonomie/larves_nymphes_anopheles/morphologie_larves).
D.
Morfologi
plasmodium
·
Plasmodium Vivax
Berikut bentuk – bentuk Plasmodium vivax dan ciri-cirinya.
Berikut bentuk – bentuk Plasmodium vivax dan ciri-cirinya.
a.
Bentuk cincin : 1. Ukuran 1/3 eritrosit, 2. Bentuk
cincin tebal, 3. Kromatin masa padat berbatas jelas, 4. Bentuk accole kadang –
kadang, 5. Pigmen tidak ada.
b.
Bentuk Tropozoit : 1. Ukuran besar, 2. Bentuk sangat
irregular, vakuola nyata, 3. Kromatin titik – titik atau benang – benang, 4.
Pigmen halus, warna kuning coklat, 5. Penyebaran partikel halus, 6. Penyebaran
tersebar.
c.
Bentuk Skizon Imature : 1. Bentuk hampir mengisi
seluruh eritrosit, 2. Bentuk sedikit amoeboid, 3. Kromatin banyak berupa masa
ireguler, 4. Pigmen tersebar.
d.
Bentuk Skizon Mature : 1. Mengisi Eritrosit, 2. Bentuk
bersegmen, 3. Merozoit 14 – 16, rata – rata 16, 4. Ukuran sedang, 5. Pigmen
berkumpul ditengah ( kuning coklat )
e.
Bentuk Mikrogametosit : 1. Waktu timbul 3 – 5 hari, 2.
Jumlah dalam darah banyak, ukuran mengisi eritrosit yang membesar 3. Bentuk
bulat/ ovale dan padat, 4. Sitoplasma biru pucat, 5. Kromatin fibril dengan
delondong, daerah sekitar yang tidak berwarna, 6. Pigmen tersebar.
f.
Bentuk Makrogametosit : 1. Waktu timbul 3 – 5 hari, 2.
Jumlah dalam darah banyak, ukuran mengisi eritrosit yang membesar, 3. Bentuk
bulat/ovale dan padat, 4. Sitoplasma biru tua, 5. Kromatin merupakan massa
padat di perifer, 6. Pigmen small round perifer.
·
Plasmodium ovale
Berikut bentuk – bentuk Plasmodium ovale dan ciri-cirinya.
Berikut bentuk – bentuk Plasmodium ovale dan ciri-cirinya.
a.
Bentuk Cincin : 1. Ukuran 1/3 eritrosit, 2. Bentuk
cincin padat, 3. Kromatin massa padat berbatas tegas, 4. Bentuk accole tidak
ada, 5. Pigmen pada stadium ini tidak ada.
b.
Bentuk Tropozoit sedang berkembang : 1. Ukuran kecil,
2. Bentuk padat, vakuola tidak dikenal, 3. Kromatin mempunyai kelompok besar
irregular, 4. Pigmen bentuk kasar, warna kuning coklat dan jumlahnya sedang, 5.
Penyebaran parikel kasar tersebar.
c.
Bentuk Skizon Imature : 1. Ukuran hampir mengisi
eritrosit, 2. Bentuk berpigmen, 3. Merozoit 6-12, dan rata-rata 8, ukuran
besar, 4. Pigmen terkumpul ditengah ( kuning coklat ).
d.
Bentuk Mikrogametosit : 1. Waktu timbul 12 – 14 hari,
2. Jumlah dalam darah sedikit, 3. Ukuran besar eritrosit, berbentuk bulat
padat, 4. Sitoplasma biru pucat, 5. Kromatin dan pigmen seperti P. Vivax.
e.
Bentuk Makrogametosit : 1. Waktu timbul 12 – 14 hari,
2. Jumlah dalam darah sedikit, 3. Ukuran sebesar eritrosit berbentuk bulat
padat, 4. Sitoplasma biru tua, 5. Kromatin dan pigmen seperti P. vivax
·
Plasmodium falciparum
Berikut bentuk – bentuk Plasmodium falciparum dan ciri-cirinya.
Berikut bentuk – bentuk Plasmodium falciparum dan ciri-cirinya.
a.
Tropozoit muda : 1. Bentuk cincin dengan inti yang
kecil dan sitoplasma yang halus, 2. Seringkala cincin mempunyai 2 inti, 3.
Banyak sekali cincin disertai tingkat parasit yang lebih tua
b.
Tropozoit Dewasa : 1. Vakuole cincin sering tidak ada
atau hampir tidak ada, 2. Parasit sangat kecil dan kompak, 3. Sitoplasma biasanya
pucat, oval, atau bulat tidak teratur. 4. Sebuah inti yang besar kumpulan
pigmen yang berkabut atau kelompok yang sangat gelap kira – kira sebesar inti.
5. Biasanya hanya dijumpai pada infeksi berat saja, dimana terlihat bentuk yang
banyak jumlahnya.
c.
Skizon muda : 1. Tingkat ini jarang terlihat dan
biasanya bersama – sama dengan sejumlah besar tropozoit sedang berkembang. 2.
Parasit sangat kecil dengan 2 inti atau lebih dan sedikit sekali sitoplasmanya
sering berwarna pucat. 3. Pigmen terdiri dari satu kelompok kecil atau lebih,
padat dan berwarna gelap sekali.
d.
Skizon dewasa : 1. Selalu bersamaan dengan banyak
bentuk cincin 7 kali, 2. Biasanya mempunyai kira – kira 20 atau lebih merozoit
kecil yang berkumpul disekitar satu kelompok kecil, pigmen yang berwarna gelap
sekali.
e.
Gametosit dewasa : 1. Bentuk pisang atau biji kacang
kedele, 2. Pada bagian yang tebal dari sediaan, dapat berbentuk bulat, bujur
telur atau kelihatan agak rusak, 3. Dapat bersama – sama bentuk cincin atau
tanpa cincin.
·
Bentuk stadium Plasmodium malariae dalam sediaan darah
tipis
a.
Tropozoit awal : 1. Ukuran 1/3 dari eritrosit, 2.
Berbentuk cincin padat, 3. Kromatin sering ditemukan suatu massa dalam cincin,
4. Bentuk acole tidak ada.
b.
Tropozoit sedang berkembang : 1. Ukuran kecil, bentuk
padat, 2. sering berbentuk barang, 3. vacuole tidak dikenal, 4. kromatin titik
atau benang, 5. Pigmen bentuk kasar, berwarna coklat tua dan jumlahnya banyak,
6. Penyebaran gumpalan atau batang yang tersebar.
c.
Skizon immature ( muda ) : 1. Ukuran hampir mengisi,
2. Bentuk padat, 3. Kromatin sedikit berupa massa ireguler, 4. Pigmen tersebar.
d.
Skizon matur ( tua ) : 1. Ukuran hampir mengisi
eritrosit, 2. Bentuk berpigmen, 3. Merozoit 6 – 12 dan rata – rata 8, 4. Ukuran
besar, 5. Pigmen berkumpul ditengah.
e.
Mikrogametosit : 1. Waktu timbul 7 – 14 hari, 2.
Ukuran dalam darah sedikit, 3. Ukuran lebih kecil daripada eritrosit, 4. Bentuk
bulat padat, 5. Sitoplasma biru pucat, 6. Kromatin seperti P. Vivax
f.
Makrogametosit : 1. Waktu timbul 7 – 14 hari, 2. Jumlah
dalam darah sedikit, 3. Ukuran lebih kecil daripada eritrosit, 4. Bentuk bulat
padat, 5. Sitoplasma biru tua, 6. Kromatin seperti P. vivax, 7. Pigmen seperti
P. Vivax.
( Srisasi
Gandahusada, 2006 ).
E.
Siklus Hidup Plasmodium
1) Fase seksual
Siklus
dimulai ketika nyamuk anopheles betina menggigit manusia dan memasukan
sporozoit yang terdapat pada air liurnya ke dalam aliran darah manusia.
Memasuki sel parenkim hati dan berkembang biak membentuk skizon hati yang
mengandung ribuan merozoit, disebut fase skizogoni eksoeritrosit karena parasit
belum masuk ke dalam sel darah merah.lama fase ini berbeda untuk setiap spesies
plasmodium.pada akhir akhir fase ini, hati pecah, merozoit keluar lalu masuk ke
dalam aliran darah. Fase eritrosit dimulai saat merozoit dalam darah menyerang
sel darah merah dan membentuk trofozoit. Proses berlanjut menjadi trofozoit –
skizon- merozoit. Setelah dua sampai tiga generasi merozoit terbentuk lalu
sebagian berubah menjadi bentuk seksual
2) Fase
aseksual
Saat nyamuk
anopheles betina mengisap darah manusia yang mengandung parasit malaria,
parasit bentuk seksual masuk ke dalam perut nyamuk. Selanjutnya menjadi
mikrogametosit dan makrogametosit dan terjadilah pembuahan yang disebut zigot
(ookinet) yang kemudian menembus dinding lambung nyamuk dan menjadi ookista.
Jika ookista pecah ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapaikelenjar air liur
nyamuk dan siap ditularkan jika nyamuk menggigit tubuh manusia (Prabowo. 2004 )
F.
Siklus Hidup
Nyamuk Anopheles sp.
Anopheles mengalami metamorfosis sempurna yaitu
stadium telur, larva, kepompong, dan dewasa yang berlangsung selama 7-14
hari. Tahapan ini dibagi ke dalam 2
(dua) perbedaan habitatnya yaitu lingkungan air (aquatik) dan di daratan
(terrestrial). Nyamuk dewasa muncul dari
lingkungan aquatik ke lingkungan terresterial setelah menyelesaikan daur
hidupnya. Oleh sebab itu, keberadaan air
sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup nyamuk, terutama masa larva dan
pupa. Nyamuk Anopheles betina dewasa
meletakkan 50-200 telur satu persatu di dalam air atau bergerombol tetapi
saling lepas. Telur Anopheles mempunyai
alat pengapung dan untuk menjadi larva dibutuhkan waktu selama 2 sampai 3 hari,
atau 2 sampai 3 minggu pada iklim-iklim lebih dingin. Pertumbuhan larva dipengaruhi faktor suhu,
nutrien, ada tidaknya binatang predator yang berlangsung sekitar 7 sampai 20
hari bergantung pada suhu. Kepompong 9
(pupa) merupakan stadium terakhir di lingkungan aquatik dan tidak memerlukan
makanan. Pada stadium ini terjadi proses pembentukan alatalat tubuh nyamuk
seperti alat kelamin, sayap dan kaki.
Lama stadium pupa pada nyamuk jantan antara 1 sampai 2 jam lebih pendek
dari pupa nyamuk betina, karenanya nyamuk jantan akan muncul kira-kira satu
hari lebih awal daripada nyamuk betina yang berasal dari satu kelompok
telur. Stadium pupa ini memakan waktu
lebih kurang 2 sampai dengan 4 hari (Rinidar, 2010).
G.
Cara
Penularan Malaria (Transmisi)
Penyakit malaria ditularkan
melalui dua cara yaitu secara alamiah dan non alamiah. Penularan secara alamiah
adalah melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung parasit malaria
(Prabowo, 2004 ). Saat menggigit nyamuk mengeluarkan sporosit yang masuk ke
peredaran darah tubuh manusia sampai sel – sel hati manusia. Setelah satu
sampai dua minggu digigt, parasit kembali masuk ke dalam darah dan mulai
menyerang sel darah merah dan mulai memakan haemoglobin yang membawa oksigen
dalam darah. Pecahnya sel darah merah yang terinfeksi plasmodium ini
menyebabkan timbulnya gejala demam disertai menggigil dan menyebabkan anemia (Depkes,2003).
Nyamuk Anopheles betina yang
menggigit orang sehat, maka parasit itu dipindahkan ke tubuh orang sehat dan
jadi sakit. Seorang yang sakit dapat menulari 25 orang sehat sekitarnya dalam waktu
musim penularan (3 bulan dimana jumlah nyamuk meningkat) (www.Depkes.go.id )
Penularan non-alamiah terjadi
jika bukan melalui gigitan nyamuk anopheles. Beberapa penularan malaria secara
non alamiah antara lain : malaria bawaan (Kongenital) adalah malaria pada bayi
baru lahir yang ibunya menderita malaria.penularannya terjadi karena adanya
kelainan pada sawar plasenta (selaput yang melindungi plasenta) sehingga tidak
ada penghalang infeksi dari ibu kepada janinnya. Gejala pada bayi baru lahir
berupa demam, iritabilitas (mudah terangsang sehingga sering menangis dan
rewel), pembesaran hati dan limpa, anemia, tidak mau makan atau minum, serta
kuning pada kulit dan selaput lendir. Keadaan ini dibedakan dengan infeksi
kongenital lainnya. Pembuktian pasti dilakukan dengan deteksi parasit malaria
pada darah bayi. Selain itu Transfusion malaria yakni infeksi malaria yang
ditularkan melalui transfusi darah dari donor yang terinfeksi malaria, pemakaian
jarum suntik secara bersama- sama pada pecandu narkoba atau melalui
transplantasi organ (Prabowo, 2004).
H.
Jenis-Jenis
Plasmodium
Ada 4 jenis penyebab malaria pada
manusia antara lain :
1) Plasmodium falcifarum yang sering
menjadi malaria cerebral, dengan angka kematian yang tinggi. Infeksi oleh
spesies ini menyebabkan parasitemia yang meningkat jauh lebih cepat
dibandingkan spesies lain dan merozitnya menginfeksi sel darah merah dari
segala umur (baik muda maupun tua). Spesies ini menjadi penyebab 50% malaria
di seluruh dunia.
2) Plasmodium vivax . spesies ini cenderung menginfeksi sel – sel darah
merah yang muda. (retilkulosit) kira – kira 43% dari kasus malaria di seluruh
dunia disebabkan oleh plasmodium vivax.
3) Plasmodium malariae, mempunyai kecenderungan untuk menginfeksi sel – sel
darah merah yang tua.
4) Plasmodium ovale. Prediksinya terhadap sel – sel darah merah mirip
dengan plasmodium vivax (menginfeksi sel – sel darah muda)
(Sutisna, 2004)
I. Jenis
Jenis Malaria
1.
Malaria Tertiana, disebabkan
oleh Plasmodium vivax, dimana pasien malaria merasakan
demam muncul setiap hari ketiga dan merupakan penyebab
kira-kira 43% kasus penyakit malaria pada manusia.
2.
Malaria Kuartana, disebabkan
oleh Plasmodium malariae, pasien malaria merasakan demam
setiap hari keempat dan menyebabkan kira-kira 7% penyakit malaria didunia.
3.
Malaria Tropica, disebabkan
oleh Plasmodium falciparum serta merupakan penyakit malaria yang
paling berbahaya dan seringkali berakibat fatal. Jenis penyakit malaria ini
adalah yang terberat, karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi berat
seperti cerebral malaria (malaria otak), anemia berat, syok, gagal
ginjal akut, pendarahan, serta sesak nafas,. Penderita penyakit malaria jenis
ini mengalami demam tidak teratur dengan disertai gejala terserangnya bagian
otak, bahkan memasuki fase koma dan kematian yang mendadak.
4.
Malaria Pernisiosa, disebabkan
oleh Plasmodium ovale. Penyakit malaria jenis ini jarang
sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat.
J.
Gejala - Gejala
Malaria
Gejala–gejala penyakit malaria dipengaruhi oleh daya pertahanan tubuh
penderita, jenis plasmodium malaria, serta jumlah parasit yang menginfeksinya.
Waktu terjadinya infeksi pertama kali disebut masa inkubasi sedangkan waktu
diantara terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit malaria dalam darah
disebut periode prapaten ditentukan oleh jenis plasmodiumnya.
Tabel 1: Periode Prapaten dan Masa
Inkubasi Plasmodium
NO
|
Jenis Plasmodium
|
Periode Prapaten Masa Inkubasi
|
1
2
3
4
|
P. Falcifarum
P. Vivax
P. Malariae
P. Ovale
|
11 Hari 9 – 14 Hari
12,2 Hari 12 – 17 Hari
32,7 Hari 18 – 40 Hari
12 Hari 16 – 18 Hari
|
Umumnya gejala yang disebabkan oleh plasmodium falcifarum lebih berat dan
dan lebih akut dibandingkan dengan jenis plasmodium lainnya. Gambaran khas dari
penyakit malaria adalah adanya demam periodik, pembesaran limpa, dan anemia
(Prabowo, 2004).
1) Demam
Demam pada malaria ditandai dengan adanya paroksisme yang berhubungan
dengan perkembangan parasit malaria dalam sel darah merah. Puncak serangan
panas terjadi bersamaan dengan lepasnya merozoit – merozoit ke dalam peredaran
darah (proses sporulasi) untuk bebeprapa hari pertama. Serangan
demam pada malaria terdiri dari tiga:
a. Stadium
dingin
Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin. Nadi cepat
tetapi lemah. Bibir dan jari –jari pucat kebiru – biruan (sianotik). Kulitnya
kering dan pucat penderita mungkin muntah dan pada anak sering terjadi
kejang. Periode ini berlangsung selama 15 menit sampai 1 jam
b.Stadium
demam
Pada stadium ini penderita mengalami serangan demam. Muka penderita menjadi
merah, kulitnya kering dan dirasakan sangat panas seperti terbakar, sakit
kepala bertambah keras, dan sering disertai dengan rasa mual atau muntah –
muntah. Nadi penderita menjadi kuat kembali. Biasanya penderita merasa sangat
haus dan suhu badan bisa meningkat sampai 41 0C. Stadium ini
berlangsung 2- 4 jam.
c. Stadium
berkeringat
Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai membasahi
tempat tidur. Namun, suhu badan pada fase ini turun dengan cepat kadang –
kadang sampai dibawah normal. Biasanya penderita tertidur nyenyak dan pada saat
terjaga , ia merasa lemah tetapi tanpa gejala. Penderita akan merasa sehat dan
dapat melakukan pekerjaan seperti biasa. Tetapi sebenarnya penyakit ini masih
bersarang. Stadium inu berlangsung selama 2 - 4 jam.
(Prabowo, 2004)
2) Pembesaran Limpa
Pembesaran limpa merupakan gejala khas pada malaria kronis atau menahun.
Limpa membengkak dan terasa nyeri.limpa membengkak akibat penyumbatan oleh sel
– sel darah merah yang mengandung parasit malaria. Lama – lamakonsistensi limpa
menjadi keras karena jaringan ikat pada limpa semakin bertambah. Dengan
pengobatan yang baik limpa berangsur normal kembali.
(Prabowo,
2004).
3) Anemia
Anemia terjadi disebabkan oleh penghancuran sel darah merah yang berlebihan
oleh parasit malaria. Selain itu, anemia timbul akibat gangguan pembentukan sel
darah merah di sumsum tulang.
(Prabowo,
2004).
K.
Diagnosis Malaria ( anamnesa, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang laboratorium )
a.
Anamnesis
Pada anamnesis sangat penting diperhatikan:
1.
Keluhan utama: demam, menggigil, berkeringat dan dapat
disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal
2.
Riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu
ke daerah endemik malaria
3.
Riwayat tinggal di daerah endemik malaria
4.
Riwayat sakit malaria
5.
Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir
6.
Riwayat mendapat transfusi darah
7.
Riwayat pengobatan kuratip maupun preventif.
b.
Pemeriksaan fisik
1.
Malaria tanpa komplikasi:
a.
Demam (pengukuran dengan termometer ≥ 37,5°C)
b.
Konjungtiva atau telapak tangan pucat
c.
Pembesaran limpa (splenomegali)
d.
Pembesaran hati (hepatomegali)
2.
Malaria dengan komplikasi dapat ditemukan keadaan dibawah
ini.
a.
Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat
b.
Keadaan umum yang lemah (tidak bisa duduk/berdiri)
c.
Kejang-kejang
d.
Panas sangat tinggi
e.
Mata atau tubuh kuning
c.
Diagnosis Atas Dasar Pemeriksaan
Laboratorium
1.
Pemeriksaan dengan mikroskop
Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di Puskesmas/Iapangan/rumah
sakit untuk menentukan:
a.
Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif).
b.
Spesies dan stadium plasmodium
c.
Kepadatan parasit
2.
Untuk penderita tersangka malaria berat perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.
Bila pemeriksaan sediaan darah pertama negatif, perlu
diperiksa ulang setiap 6 jam sampai 3 hari berturut-turut
b.
Bila hasil pemeriksaan sediaan darah tebal selama 3
hari berturut-turut tidak ditemukan parasit maka diagnosis malaria
disingkirkan.
3.
Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat (Rapid
Diagnostic Test) Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen
parasit malaria, dengan menggunakan metoda imunokromatografi, dalam bentuk
dipstik Tes ini sangat bermanfaat pada unit gawat darurat, pada saat terjadi
kejadian luar biasa dan di daerah terpencil yang tidak tersedia fasilitas lab
serta untuk survey tertentu.
Hal yang penting lainnya adalah penyimpanan RDT ini sebaiknya dalam lemari es tetapi tidak dalam freezer pendingin.
Hal yang penting lainnya adalah penyimpanan RDT ini sebaiknya dalam lemari es tetapi tidak dalam freezer pendingin.
Jenis pemeriksaan untuk penegakan diagnosis penyakit malaria ada beberapa, namun hingga saat ini metode yang masih dianggap sebagai standar emas (gold standart) adalah menemukan parasit Plasmodium dalam darah. Beberapa jenis metode pemeriksaan parasit Plasmodium ini diantaranya :
1.
Pemeriksaan mikroskopis.
Pemeriksaan mikroskopis ini dilakukan untuk menemukan parasit Plasmodium
secara visual dengan melakukan identifikasi langsung pada sediaan darah penderita.
Pemeriksaan mikroskopis ini sangat bergantung pada keahlian pranata
laboratorium (analis kesehatan) yang melakukan identifikasi. Teknik pemeriksaan
inilah yang masih menjadi standar emas dalam penegakan diagnosis penyakit
malaria.
Termasuk di dalam jenis pemeriksaan mikroskopis ini adalah pemeriksaan QBC(Quantitative
Buffy Coat). Pada pemeriksaan QBC dilakukan pewarnaan fluorescensi dengan
Acridine Orange yang memberikan warna spesifik terhadap eritrosit yang
terinfeksi oleh parasit Plasmodium. Plasmodium akan mengikat zat warna Acridine
Orange sehingga dapat dibedakan dengan sel lain yang tidak terinfeksi.
Kelemahan teknik ini adalah tidak dapat membedakan spesies dan tidak dapat
melakukan hitung jumlah parasit. Selain itu juga reagensia yang digunakan
relatif mahal dibandingkan pewarna Giemsa yang sering kita gunakan sehari-hari
untuk pewarnaan rutin sediaan malaria.
2.
Pemeriksaan immunoserologis.
Pemeriksaan secara immunoserologis dapat dilakukan dengan melakukan deteksi
antigen maupun antibodi dari Plasmodium pada darah penderita, antara lain :
a. Deteksi
antigen spesifik.
Teknik ini
menggunakan prinsip pendeteksian antibodi spesifik dari parasit Plasmodium yang
ada dalam eritrosit. Beberapa teknik yang dapat dipilih diantaranya adalah :
- Radio immunoassay
- Enzym immunoassay
- Immuno cromatography
Penemuan adanya antigen pada teknik ini memberikan gambaran pada saat
dilakukan pemeriksaan diyakini parasit masih ada dalam tubuh penderita.
Kelemahan dari teknik tersebut adalah tidak dapat memberikan gambaran derajat
parasitemia.
b. Deteksi
antibodi.
Teknik deteksi antibodi ini tidak dapat memberikan gambaran bahwa infeksi
sedang berlangsung. Bisa saja antibodi yang terdeteksi merupakan bentukan
reaksi immunologi dari infeksi di masa lalu. Beberapa teknik deteksi antibodi
ini antara lain :
- Indirect Immunofluoresense Test (IFAT)
- Latex Agglutination Test
- Avidin Biotin Peroxidase Complex Elisa
3.
Sidik DNA.
Teknik ini bertujuan untuk mengidentifikasi rangkaian
DNA dari tersangka penderita. Apabila ditemukan rangkaian DNA yang sama dengan
rangkaian DNA parasit Plasmodium maka dapat dipastikan keberadaan Plasmodium.
Kelemahan teknik ini jelas pada pembiayaan yang mahal dan belum semua
laboratorium bisa melakukan pemeriksaan ini.
L. Obat-obat
Anti Malaria
Obat malaria yang dikenal umum adalah:
Obat malaria yang dikenal umum adalah:
·
Obat
standar: Klorokuin dan Primakuin. Klorokuin efefktivitasnya sangat tinggi
terhadap Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum.
·
Obat
alternatif: Kina dan Sp (Sulfadoksin + Pirimetamin). Kombinasi SP sangat
efektif untuk mengobati penderita malaria oleh Plasmodium falciparum yang sudah
resisten kloroluin.
·
Obat
penunjang: Vitamin B Complex, Vitamin C dan SF (Sulfas Ferrosus).
·
Obat
malaria berat: Kina HCL 25% injeksi (1 ampul 2 cc).
·
Obat
standar dan Klorokuin injeksi (1 ampul 2 cc) sebagai obat alternatif.
Obat-obat antimalaria yang dipakai dalam program adalah klorokuin, sulfadoksin pirimetamin, kina, tetrasiklin, dan primakuin.
Obat-obat antimalaria yang dipakai dalam program adalah klorokuin, sulfadoksin pirimetamin, kina, tetrasiklin, dan primakuin.
M.
Pencegahan Penyakit Malaria
1.
Usahakan tidur dengan kelambu, memberi kawat kasa,
memakai obat nyamuk bakar, menyemprot ruang tidur, dan tindakan lain untuk
mencegah nyamuk berkembang di rumah.
2.
Usaha pengobatan pencegahan secara berkala, terutama
di daerah endemis malaria.
3.
Menjaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan
ruang tidur, semak-semak sekitar rumah, genangan air, dan kandang-kandang
ternak.
4.
Memperbanyak jumlah ternak seperti sapi, kerbau,
kambing, kelinci dengan menempatkan mereka di luar rumah di dekat
tempat nyamuk bertelur.
5.
Memelihara ikan pada air yang tergenang, seperti
kolam, sawah dan parit. Atau dengan memberi sedikit minyak pada air
yang tergenang.
6.
Menanam padi secara serempak atau diselingi
dengan tanaman kering atau pengeringan sawah secara berkala.
7.
Menyemprot rumah dengan DDT.
N.
Penyebab Penyakit Malaria Sulit diberantas
Malaria juga sangat sulit untuk diberantas karena keberadaan nyamuk itu
sendiri mencapai ratusan spesies. Tidak kurang dari 400 spesies jenis nyamuk
anopheles hidup di bumi. Di Indonesia memiliki sedikitnya 20 jenis anopheles
dimana 9 jenis diantaranya merupakan faktor penyebab malaria dan Papua
merupakan tempat perkembangbiakan paling potensial. Secara teoritis cukup hanya
dengan satu kali gigitan nyamuk anopheles yang mengandung parasit seseorang
sudah dapat terjangkit malaria.
DAFTAR PUSTAKA
Borror.
1992. Pengenalan Pelajaran Serangga,
edisi VI. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Depkes RI.
2003. Pedoman Tatalaksana Kasus Malaria.
Departemen Kesehatan. Jakarta.
Hiswani.
2004. Gambaran Penyakit dan Vektor
Malaria Di Indonesia.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3760/1/fkm-hiswani11.pdf
Prabowo,
A. 2004. Malaria, Mencegah dan
Mengatasinya. Penerbit Puspa Swara. Jakarta.
Rinidar,
2010. Pemodelan Kontrol Malaria Melalui
Pengelolaan Terintegrasi Di
Kemukiman Lamteuba, Nangroe Aceh Darussalam. Thesis. Sekolah Pascasarjana
Program Doktor Universitas Sumatera Utara 2010. Medan.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18650/4/Chapter%20II.pdf
Safar, R.
2010. Parasitologi Kedokteran :
Protozoologi, Helmintologi, Entomologi Cetakan I. Yrama Widya. Bandung.
Srisasi
Gandahusada, dkk. 2006. Parasitologi
Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI edisi ketiga. Jakarta.
Sutisna, P.
2004. Malaria secara Ringkas.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
www.
Depkes.go.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar