2 Hari Terburuk, 1 Pengalaman
Terbaik
Oleh: Dessy Sumega D
Matahari
terbit di ufuk timur menandakan hari sudah pagi , suara ayam berkokok beradu
dengan jam weker Dita yang juga berbunyi. Dengan malasnya Dita membuka matanya
lalu bergegas ke kamar mandi. Dita bersiap-siap untuk ke sekolah. Sebelumnya Dita
ke meja makan dulu menemui abi dan umi yang biasa sarapan.
“kok umi dan
abi nggak ada, kemana mereka ?” Dita bertanya-tanya.
“mungkin mau
cepat-cepat berangkat kerja, untungnya umi sudah siapkan sarapan dulu buat aku”
kata Dita lalu Dita sarapan.
Dita menuju
halte untuk menunggu bus di sana. Akhirnya bus datang juga lalu dia masuk dan
bus melaju menuju sekolahnya. Tak lama sampai juga di sekolah. Dita turun dari bus dan memberi ongkos ke
kenek bus tersebut tapi dia malah tak dihiraukan.
“mas, ini
uangnya” kata Dita. Dita heran beberapa detik
karena uang itu tak disambut.
“dikasih
uang kok nggak mau” kata Dita. Tak mempermasalahkan itu, Dita pergi ke
kelasnya.
Berpapasan
dengan Katy, teman Dita , Dita menyapanya.
“pagi
Katy” kata Dita tapi tak ada jawaban
dari Katy, malah Katy pergi ke kelasnya tanpa memandang Dita.
“sombong
banget sih” kata Dita kesal.
Di kelas Dita
duduk di tempat yang biasa, di sebelah Rita, sahabatnya.
“Rit, bete deh
, aku sapa si Katy, malah dia nggak jawab. Sombong banget sekarang dia” Dita
menumpahkan kekesalannya.
Rita hanya
diam membuat Dita berpikir “kenapa sih Rita, biasanya kalau aku cerita,dia
semangat banget dengerinnya, mungkin dia ada masalah, ya sudahlah ” kata Dita
dalam hati.
Bapak guru
datang lalu seperti biasanya mengabsen nama-nama siswa. Namun nama Dita
dilewatkan begitu saja oleh pak guru.
“pak , maaf
, bapak kelewatan nama saya” kata Dita. Tapi juga tak ada jawaban. Dita pikir
suaranya terlalu kecil . lalu Dita mengatakan lagi dengan suara lebih nyaring
“Pak, bapak lupa sebut nama saya” kata Dita. Tak ada jawaban juga, malah Pak guru memulai
pelajaran. Membuat Dita semakin kesal lalu dengan pasrah dia mengatakan “saya
hadir lo pak”. Pelajaran hari ini di sekolah dilewati Dita dengan kekesalan.
Di rumah.
“assalamualaikum”
kata Dita.
Tak ada
jawaban tapi Dita melihat umi dan tv yang sedang menyala.
“umi, aku
pulang” kata Dita. Tapi Dita melihat umi nggak nonton tv tapi lagi menangis.
Dita nggak
enak nanya umi kenapa menangis jadi dia langsung pergi ke kamarnya.
“kenapa sih
orang-orang hari ini, pusing deh, mending aku tidur”kata Dita
Bangun tidur,
hari sudah sore, perut Dita terasa lapar. Lalu dia ke meja makan dan makan
makanan yang sudah tersedia.
“assalamualikum”
suara abi terdengar.
“waalaikumsalam”
sahutku.
“abi sudah
pulang”kata ku.
Lalu abi ke
kamar melihat umi lagi nangis.
“kenapa mi
?” kata abi
“ingat Dita
bi” jawab umi
“ikhlaskan
saja umi, semoga saja dia ditempatkan disisi yang Maha Kuasa. Tugas kita
sekarang hanya mendoakannya” kata abi
Dita
mendengar itu dari pintu kamar. “kenapa dengan aku ?” kata Dita dalam hati.
Lalu Dita
pergi ke halaman rumah duduk di kursi melihat bintang-bintang di langit.
“Tuhan,
kenapa hari ini begitu aneh ?” kata dirinya.
“aku tidak
dihiraukan seharian ini, hari ini nggak ada yang menjawab kata-kata aku, dari
kenek bus, Katy, Rita, Pak guru bahkan umi ku sendiri. Tunggu….. tadi abi
mengatakan tentang ku , seakan-akan aku sudah tiada. Mereka semua seakan-akan
nggak melihat aku lagi disekitar mereka” kata Dita berpikir dengan keras. Lalu
Dita menitikkan air matanya.
“kalau semua
ini benar adanya, berarti sudah tidak ada waktu lagi untukku memperbaiki
kesalahanku, tidak ada waktu lagi berbakti kepada orang tua, tapi kenapa aku
masih bangun dari tidur ku ?, kenapa aku masih merasakan lapar ? “ untuk
membuktikannya Dita mencubit lengannya
“aww, sakit”
Dita menjerit
“kenapa aku
masih merasakan sakit ?”
Belum
percaya dengan semua ini, Dita menghubungi Aldi, pacarnya. Aldi tak menggangkat
telepon darinya.
“sungguh
aneh…. Aku ini masih hidup atau sudah meninggal sih?” kata Dita pasrah.
Malam ini
dilewatkan Dita bersama bintang gemintang. Namun mata Dita sudah tidak tahan
lagi menahan kantuk . dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 1 malam, lalu dia
pergi ke kamarnya untuk tidur.
Keesokan
harinya, Dita merasakan malas yang tiada terkira untuk bangun dari tidurnya,
tapi dia sudah berjanji hari ini untuk membuktikan kalau dia masih hidup.
sesudah
mandi , dia mencari umi dan abi nya tapi dia tidak menemukan mereka di dalam rumah.
“kemana umi
dan abi ?, kenapa mereka pergi tanpa pamit sama aku?, sudah dua hari seperti
ini?” semua kejadian dua hari ini membuat Dita bingung.
Dilihatnya ,
umi dan abi sudah siap-siap pergi pakai mobil, Dita menyusul menggunakan sepeda
motor lalu berteriak di jalan.
“umi ….
Abi…. Kalian mau kemana?” kata Dita.
Dita hanya
bisa mengiringi mobil yang ternyata menuju ke pemakaman umum. Dilihatnya mereka
berdua menuju ke sebuah makam dengan aliran air mata di pipi umi. Karena Dita
penasaran , didekatinya makam itu, dilihatnya nisan yang bertulisan sebuah
nama, tenyata nama yang tertulis adalah Dita Az-Zahra binti Rahmat.
“nama ku
sendiri” kata Dita kaget
“umi… abi….
Aku disini, aku disamping kalian. Ini bukan makam aku kan ?, umi jangan nangis,
aku masih hidup” kata Dita seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“umi, abi,
jawab aku “ teriak Dita.
Mereka
berdua tidak menjawab pertanyaan Dita. Dita hanya bisa menangis. Menangis sejadi-jadinya.
Sudah terlalu lama dia menangisi nisannya sendiri. Sekarang sudah menunjukan
pukul 5 sore. Lalu dia pergi ke halaman rumahnya. Tak terasa dia sudah seharian
belum makan.Dita mau beranjak dari duduknya ingin mencari makan di dalam rumah.
Tapi dia teringat bahwa dia sudah meninggal.
“masa iya
sih aku sudah jadi ruh ?, berarti aku sudah nggak perlu makan lagi, nggak ada
gunanya lagi aku makan” membuat dia enggan pergi ke dalam rumah.
“kenapa aku
masih di dunia ya ?, seharusnya aku sudah dalam kubur, menyaksikan para
malaikat menanyai ku ?, dan aku nggak tahu harus jawab apa karena aku belum
siap bekal di akhirat, aduh aku nyesal” Dita
merasakan penyesalan yang menurutnya adalah penyesalan terakhir.
“tunggu… aku
bingung dengan rencana Allah untuk ku, buat apa aku masih di dunia ?” Dita
bertanya-tanya heran.
Tiba-tiba muncul
kembang api di langit malam dengan suaranya yang nyaring membuat Dita tersadar
dari lamunannya.
“kembang
apinya indah banget tapi enggak ada gunanya lagi juga kembang api kalau aku
sudah meninggal” kata Dita.
Yang tak
terduga terdengar lagu happy birthday dari balik pohon.
“siapa yang
ulang tahun ?” tanya Dita
Dan
keluarlah umi, abi , Rita, Katy dan Aldy membawa kue ulang tahun.
“ya… kamu
lah yang ulang tahun Dita” jawab umi.
Dita bingung,
umi mengatakan sesuatu kepadanya yang selama dua hari ini tak pernah mengatakan
apapun.
“kalian
lihat aku semua? “ tanya Dita terheran-heran.
“yaiyalah
masa nggak lihat kamu yang gemuk sih “ kata Aldy.
“masih aja
ya kamu ngeledek aku “ sahut Dita
“aku kan
sudah meninggal, kenapa kalian………… ”
kata-kata
Dita dipotong oleh Rita “kamu ini masih aja polos ya, masa sih kamu nggak
ngerti?”
“Dita, kamu
dikerjai”kata Katy
Lalu mereka
semua tertawa.
“nggak
lucu tahu nggak, umi dan abi juga ikut-ikutan nih“ lalu Dita memeluk umi.
“umi aku nggak mau kehilangan umi, nggak mau
kehilangan semuanyan juga, aku takut sendirian” Dita hampir saja meneteskan air
mata.
“malah
idenya dari umi lo” kata abi
“
umi tega banget sih, aku nih sudah ketakutan setengah mati” kata Dita
“
iya maaf” umi minta maaf atas idenya yang keterlaluan.
“
tapi kenapa kenek bus , kawan-kawan di kelas , dan pak guru juga nggak melihat
aku ?” Tanya Dita
“mereka
semua kami suruh untuk acting “kata umi
“acting
kalian perfect , kalian sudah bisa jadi actor dan actress beneran”ledek Dita
“bukannya
perfect, kamu aja yang mudah banget dikerjain” kata Katy.
“dikerjai
nya keterlaluan , soal makam ?” Tanya Dita
“Itu
sih urusan mudah”kata Aldy
“kalian
ini mau aku cepat mati ya?” Dita masih sedikit kesal.
“
justru umi dan abi sayang sama kamu, umi nggak mau kamu tumbuh jadi anak yang
manja , umi mau kamu sadar kalau di dunia itu sementara saja sayang, umi mau
kamu jadi anak yang solehah” kata umi menasehati
“
kan bisa dinasehati aja” sahut Dita
“kalau
dinasehati kamu itu masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri” abi sangat
mengetahui kelakuan anaknya
“
ih abi tahu aja” Dita tersenyum malu
“kan
anak abi… abi mau kamu sadar dengan sebuah pengalaman , karena pengalaman itu
lebih baik dari nasehat” kata abi
“benar
itu Dit, experience is the best teacher “ kata umi
“
umi sudah bisa bahasa inggris ya ?”
“little-little
”jawab umi
Semuanya
tertawa.
Dita
merasa senang, dua hari saja dia sudah bisa memahami arti hidup. Itu berkat
orang-orang yang menyayanginya memberikan sebuah pengalaman. Sungguh pengalaman
yang tak terlupakan, dari pengalaman itu, dia bisa belajar tentang hidup.
interesting. i thought dita is really gone.
BalasHapusMirip cerita "Unleashed"
thanks.
BalasHapus