Selasa, 30 Juli 2013

Cerpen (2 Hari Terburuk,1 Pengalaman Terbaik)

2 Hari Terburuk, 1 Pengalaman Terbaik

Oleh: Dessy Sumega D

Matahari terbit di ufuk timur menandakan hari sudah pagi , suara ayam berkokok beradu dengan jam weker Dita yang juga berbunyi. Dengan malasnya Dita membuka matanya lalu bergegas ke kamar mandi. Dita bersiap-siap untuk ke sekolah. Sebelumnya Dita ke meja makan dulu menemui abi dan umi yang biasa sarapan.


“kok umi dan abi nggak ada, kemana mereka ?” Dita bertanya-tanya.
“mungkin mau cepat-cepat berangkat kerja, untungnya umi sudah siapkan sarapan dulu buat aku” kata Dita lalu Dita sarapan.

Dita menuju halte untuk menunggu bus di sana. Akhirnya bus datang juga lalu dia masuk dan bus melaju menuju sekolahnya. Tak lama sampai juga di sekolah.  Dita turun dari bus dan memberi ongkos ke kenek bus tersebut tapi dia malah tak dihiraukan.

“mas, ini uangnya” kata Dita. Dita heran beberapa detik  karena uang itu tak disambut.
“dikasih uang kok nggak mau” kata Dita. Tak mempermasalahkan itu, Dita pergi ke kelasnya.

Berpapasan dengan Katy, teman Dita , Dita menyapanya.

“pagi Katy”  kata Dita tapi tak ada jawaban dari Katy, malah Katy pergi ke kelasnya tanpa memandang Dita.
“sombong banget sih” kata Dita kesal.

Di kelas Dita duduk di tempat yang biasa, di sebelah Rita, sahabatnya.

“Rit, bete deh , aku sapa si Katy, malah dia nggak jawab. Sombong banget sekarang dia” Dita menumpahkan kekesalannya.
Rita hanya diam membuat Dita berpikir “kenapa sih Rita, biasanya kalau aku cerita,dia semangat banget dengerinnya, mungkin dia ada masalah, ya sudahlah ” kata Dita dalam hati.

Bapak guru datang lalu seperti biasanya mengabsen nama-nama siswa. Namun nama Dita dilewatkan begitu saja oleh pak guru.

“pak , maaf , bapak kelewatan nama saya” kata Dita. Tapi juga tak ada jawaban. Dita pikir suaranya terlalu kecil . lalu Dita mengatakan lagi dengan suara lebih nyaring “Pak, bapak lupa sebut nama saya” kata Dita.  Tak ada jawaban juga, malah Pak guru memulai pelajaran. Membuat Dita semakin kesal lalu dengan pasrah dia mengatakan “saya hadir lo pak”. Pelajaran hari ini di sekolah dilewati Dita dengan kekesalan.

Di rumah.
“assalamualaikum” kata Dita.
Tak ada jawaban tapi Dita melihat umi dan tv yang sedang menyala.
“umi, aku pulang” kata Dita. Tapi Dita melihat umi nggak nonton tv tapi lagi menangis.
Dita nggak enak nanya umi kenapa menangis jadi dia langsung pergi ke kamarnya.
“kenapa sih orang-orang hari ini, pusing deh, mending aku tidur”kata Dita

Bangun tidur, hari sudah sore, perut Dita terasa lapar. Lalu dia ke meja makan dan makan makanan yang sudah tersedia.

“assalamualikum” suara abi terdengar.
“waalaikumsalam” sahutku.
“abi sudah pulang”kata ku.

Lalu abi ke kamar melihat umi lagi nangis.
“kenapa mi ?” kata abi
“ingat Dita bi” jawab umi
“ikhlaskan saja umi, semoga saja dia ditempatkan disisi yang Maha Kuasa. Tugas kita sekarang hanya mendoakannya”  kata abi
Dita mendengar itu dari pintu kamar. “kenapa dengan aku ?” kata Dita dalam hati.

Lalu Dita pergi ke halaman rumah duduk di kursi melihat bintang-bintang di langit.

“Tuhan, kenapa hari ini begitu aneh ?” kata dirinya.
“aku tidak dihiraukan seharian ini, hari ini nggak ada yang menjawab kata-kata aku, dari kenek bus, Katy, Rita, Pak guru bahkan umi ku sendiri. Tunggu….. tadi abi mengatakan tentang ku , seakan-akan aku sudah tiada. Mereka semua seakan-akan nggak melihat aku lagi disekitar mereka” kata Dita berpikir dengan keras. Lalu Dita menitikkan air matanya.
“kalau semua ini benar adanya, berarti sudah tidak ada waktu lagi untukku memperbaiki kesalahanku, tidak ada waktu lagi berbakti kepada orang tua, tapi kenapa aku masih bangun dari tidur ku ?, kenapa aku masih merasakan lapar ? “ untuk membuktikannya Dita mencubit lengannya
“aww, sakit” Dita menjerit
“kenapa aku masih merasakan sakit ?”

Belum percaya dengan semua ini, Dita menghubungi Aldi, pacarnya. Aldi tak menggangkat telepon darinya.

“sungguh aneh…. Aku ini masih hidup atau sudah meninggal sih?”  kata Dita pasrah.
Malam ini dilewatkan Dita bersama bintang gemintang. Namun mata Dita sudah tidak tahan lagi menahan kantuk . dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 1 malam, lalu dia pergi ke kamarnya untuk tidur.

Keesokan harinya, Dita merasakan malas yang tiada terkira untuk bangun dari tidurnya, tapi dia sudah berjanji hari ini untuk membuktikan kalau dia masih hidup.
sesudah mandi , dia mencari umi dan abi nya tapi dia tidak menemukan mereka di dalam rumah.

“kemana umi dan abi ?, kenapa mereka pergi tanpa pamit sama aku?, sudah dua hari seperti ini?” semua kejadian dua hari ini membuat Dita bingung.

Dilihatnya , umi dan abi sudah siap-siap pergi pakai mobil, Dita menyusul menggunakan sepeda motor lalu berteriak di jalan.

“umi …. Abi…. Kalian mau kemana?” kata Dita.

Dita hanya bisa mengiringi mobil yang ternyata menuju ke pemakaman umum. Dilihatnya mereka berdua menuju ke sebuah makam dengan aliran air mata di pipi umi. Karena Dita penasaran , didekatinya makam itu, dilihatnya nisan yang bertulisan sebuah nama, tenyata nama yang tertulis adalah Dita Az-Zahra  binti Rahmat.

“nama ku sendiri” kata Dita kaget
“umi… abi…. Aku disini, aku disamping kalian. Ini bukan makam aku kan ?, umi jangan nangis, aku masih hidup” kata Dita seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“umi, abi, jawab aku “ teriak Dita.

Mereka berdua tidak menjawab pertanyaan Dita. Dita hanya bisa menangis. Menangis sejadi-jadinya. Sudah terlalu lama dia menangisi nisannya sendiri. Sekarang sudah menunjukan pukul 5 sore. Lalu dia pergi ke halaman rumahnya. Tak terasa dia sudah seharian belum makan.Dita mau beranjak dari duduknya ingin mencari makan di dalam rumah. Tapi dia teringat bahwa dia sudah meninggal.

“masa iya sih aku sudah jadi ruh ?, berarti aku sudah nggak perlu makan lagi, nggak ada gunanya lagi aku makan” membuat dia enggan pergi ke dalam rumah.
“kenapa aku masih di dunia ya ?, seharusnya aku sudah dalam kubur, menyaksikan para malaikat menanyai ku ?, dan aku nggak tahu harus jawab apa karena aku belum siap bekal di akhirat, aduh aku nyesal”  Dita merasakan penyesalan yang menurutnya adalah penyesalan terakhir.
“tunggu… aku bingung dengan rencana Allah untuk ku, buat apa aku masih di dunia ?” Dita bertanya-tanya heran.

Tiba-tiba muncul kembang api di langit malam dengan suaranya yang nyaring membuat Dita tersadar dari lamunannya.

“kembang apinya indah banget tapi enggak ada gunanya lagi juga kembang api kalau aku sudah meninggal” kata Dita.

Yang tak terduga terdengar lagu happy birthday dari balik pohon.

“siapa yang ulang tahun ?” tanya Dita

Dan keluarlah umi, abi , Rita, Katy dan Aldy membawa kue ulang tahun.

“ya… kamu lah yang ulang tahun Dita” jawab umi.

Dita bingung, umi mengatakan sesuatu kepadanya yang selama dua hari ini tak pernah mengatakan apapun.

“kalian lihat aku semua? “ tanya Dita terheran-heran.
“yaiyalah masa nggak lihat kamu yang gemuk sih “ kata Aldy.
“masih aja ya kamu ngeledek aku “ sahut Dita
“aku kan sudah meninggal, kenapa kalian………… ”
kata-kata Dita dipotong oleh Rita “kamu ini masih aja polos ya, masa sih kamu nggak ngerti?”
“Dita, kamu dikerjai”kata Katy
Lalu mereka semua tertawa.

“nggak lucu tahu nggak, umi dan abi juga ikut-ikutan nih“  lalu Dita memeluk umi.
“umi  aku nggak mau kehilangan umi, nggak mau kehilangan semuanyan juga, aku takut sendirian” Dita hampir saja meneteskan air mata.                                                             
“malah idenya dari umi lo” kata abi
“ umi tega banget sih, aku nih sudah ketakutan setengah mati” kata Dita
“ iya maaf” umi minta maaf atas idenya yang keterlaluan.
“ tapi kenapa kenek bus , kawan-kawan di kelas , dan pak guru juga nggak melihat aku ?” Tanya Dita
“mereka semua kami suruh untuk acting “kata umi
“acting kalian perfect , kalian sudah bisa jadi actor dan actress beneran”ledek Dita
“bukannya perfect, kamu aja yang mudah banget dikerjain” kata Katy.
“dikerjai nya keterlaluan , soal makam ?” Tanya Dita
“Itu sih urusan mudah”kata Aldy
“kalian ini mau aku cepat mati ya?” Dita masih sedikit kesal.
“ justru umi dan abi sayang sama kamu, umi nggak mau kamu tumbuh jadi anak yang manja , umi mau kamu sadar kalau di dunia itu sementara saja sayang, umi mau kamu jadi anak yang solehah” kata umi menasehati
“ kan bisa dinasehati aja”  sahut Dita
“kalau dinasehati kamu itu masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri” abi sangat mengetahui kelakuan anaknya
“ ih abi tahu aja” Dita tersenyum malu
“kan anak abi… abi mau kamu sadar dengan sebuah pengalaman , karena pengalaman itu lebih baik dari nasehat” kata abi
“benar itu Dit, experience is the best teacher “ kata umi
“ umi sudah bisa bahasa inggris ya ?”
“little-little ”jawab umi
Semuanya tertawa.

Dita merasa senang, dua hari saja dia sudah bisa memahami arti hidup. Itu berkat orang-orang yang menyayanginya memberikan sebuah pengalaman. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan, dari pengalaman itu, dia bisa belajar tentang hidup.

2 komentar: