Kamis, 05 Juni 2014

BUKAN KISAH ROMANSA BIASA


Dua hari yang lalu aku baca novel yang luar biasa , karya Pidi Baiq. Judulnya DILAN: dia adalah Dilanku tahun 1990. Dan langsung kutuntaskan membacanya hari itu juga padahal novelnya terdiri dari 330 halaman (bagiku buku setebal itu biasa kubaca dua hari atau tiga hari). Dengan bahasa yang sederhana membuatku cepat membacanya.

Novel ini memang novel tentang cinta tapi jangan disamakan dengan novel cinta yang lainnya. Karena Surayah membentuk karakter yang membuat orang menyukainya. Karakter itu adalah Dilan. Beruntungnya seorang Milea memiliki Dilan.

Novel ini menceritakan seorang cewek yang bernama Milea mengenang masa SMA nya dengan seorang cowok bernama Dilan. Perkenalan mereka yang tidak biasa memulai kisah mereka yang luar biasa. Kisah yang berlatar kota Bandung tahun 1990 membuat hubungan mereka makin romantis. Di tahun itu masih belum ada handphone jadi mereka biasanya nelpon lewat telepon rumah atau telepon umum. Menurutku percakapan mereka di telpon itu romantis walau hanya dengan kata-kata sederhana Dilan bisa membuat Milea ketawa dan selalu senang bila menerima telepon dari Dilan.


Contoh percakapannya nih... dikutip dari halaman 50-51
Aku lebih dekat ke tempat telepon, sehingga aku yang ngangkat dan itu adalah telepon dari Dilan, buatku, untuk yang pertama kalinya.
Tidak usah ditanya bagaimana Dilan tahu nomor telepon rumahku. Kukira dia banyak akal.
“Hallo?”, kusapa yang nelepon
“Selamat malam”
“Malam”
“Bisa bicara dengan Milea?”
“Iya, saya”
“Oh. Aku Dilan”
“Hey”. Mendadak jantungku langsung deg-degan.
“Milea bisa bicara dengan aku?”
“Iya bisa”
“Tadi aku datang”
“Iya”
“Kau tahu?”
“Tahu”
“Kau tahu kenapa aku datang?”
“Kenapa?”
“Kalau aku gak datang, gara-gara kamu bilang ayahmu galak, berarti aku pecundang”
“Iya”
“Lebih baik aku datang. Kalau nanti dimarah, itu bagus, kamu akan kasihan ke aku”
“He he”.
“Kasihan gak?”
“Tadi dimarah?”
“Enggak”
“Syukurlah”
“Tadi, ayahmu bilang, kamu sudah tidur”
“Oh”
“Kenapa sekarang bisa ngomong? Kamu ngigau?”
“Iya”
“Ha ha ha ha ha”. Dilan ketawa
Sebenarnya aku juga ingin ketawa, tapi pasti kutahan. Boro-boro ketawa, bicaraku juga sebisa mungkin kubikin singkat-singkat. Entah mengapa, aku merasa ga enak, kuatir ayah dan ibu dengar. Seolah saat itu aku merasa bahwa mereka akan marah kalau tahu itu telepon dari Dilan, meskipun belum tentu mereka akan begitu.
Selesai nerima telepon, aku langsung ke kamar lagi. Sebelumnya ayahku nanya, telepon dari siapa, aku jawab dari Beni. Dan di kamar, selain kupakai untuk menyelesaikan tugas PR, sebagian otakku kugunakan untuk memikirkan dialog terakhir dengan Dilan di telepon:
“Boleh aku meramal?”, Dilan nanya
“Iya”
“Iya apa?”
“Boleh”
“Aku ramal, nanti kamu akan menjadi pacarku!”
“He he he”
“Percaya tidak?”
“Musyrik”
“Ha ha ha”
“He he he”
“Hey, Milea”
“Iya”
“Kau tahu kenapa aku tidak langsung jujur saja bilang ke kamu bahwa aku mencintaimu?”
“Enggak”
“Padahal kalau mau, aku bisa. Itu gampang”
“Terus? Kenapa?”
“Kalau langsung, gak seru. Terlalu biasa”
“He he he”
“Nanti kalau kamu mau tidur, percayalah aku sedang mengucapkan selamat tidur, dari jauh. Kamu ga akan denger”
“He he he”


Ada lagi nih percakapan lewat telepon.... halaman 129-131
Hari itu aku masih tidak sekolah, karena surat izinnya berlaku sampai selama tiga hari. Aku mendapat telepon dari Dilan, kira-kira saat di sekolah sedang waktunya istirahat.
“Hey”, kusapa dia
“Aku lagi istirahat nih. Capek!”, jawab Dilan, suaranya terengah-engah begitu
“Habis ngapain gitu?”
“Belajar”
“Ha ha ha”
“Kenapa ketawa?”
“Ga apa-apa. Kenapa emang kalau ketawa?”
“Aku senang mendengarnya”
“He he he kamu sudah makan?”
“Aku tadi sudah makan belum?” Dilan kayaknya nanya ke orang yang ada di sebelahnya
“Nanya ke siapa?”
“Ini, ibu-ibu, yg lagi antri nunggu telepon”
“Hah? Ha ha ha ngapain?”. Tanyaku. Dilan memang nelepon menggunakan telepon umum
“Bu, mau kenalan gak sama Lia?”, dia pasti nanya lagi sama orang yang lagi antri itu,”Enggak katanya! Sombong”, sambung Dilan
“Ha ha ha. Bilangin ke dia, nanti menyesal gitu”
“Malu”
“Tadi kamu gak malu nanya-nanya dia?”
“Oh iya. Bentar. Bu, nanti menyesal lho”
“Ha ha ha ha ha”
“Cantik ibu!”
“Ha ha ha ha ha”
“Mau nomor teleponnya gak?!”, dia masih nanya ke orang yang antri itu.
“Ha ha ha jangan dikasihin, Lan, biar dia cari sendiri”
“Eh jangan kenal deh, Bu”
“Kenapa?”, kutanya
“Nanti ibu jadi cinta”
“Ha ha ha ha lesbi”
“Saingan deh sama aku”
“Ha ha ha ha ha”
“Tapi aku lagi sedih, Bu, dia tiga hari gak sekolah”
“Ha ha ha Besok sekolah. Bilangin”
“Bilang ke siapa?”
“Ke kamu”
“Ha ha ha ha ha ha”
Dilan! Aku tahu sebenarnya tidak ada ibu-ibu yang lagi antri di situ. Itu cuma pura-pura. Tapi gak apa-apa, Dilan, terimakasih, aku senang.
“Lia, udahan dulu ya”
“Iya”
“Jangan lupa apa?”
“Jangan lupa apa?”, aku tanya balik
“Ingatan”
“Ha ha ha ha ha”
“Sun jauh jangan?”
“Ng…boleh deh”
“Eh, jangan deh”
“Kenapa?”
“Kenapa ya? Malu ngomongnya”
“Masa Dilan malu?”
“Oke. Jangan sun jauh, nanti aja sun dekat”
“Ha ha ha ha ha ha ha. Si ibu itu masih ada?”
“Terbang”
“Terbang? Kok bisa?”
“Ibunya burung”
“Iiiiihh! Ha ha ha ha


aku juga suka saat mereka berdialog langsung ... contohnya di halaman 205-209
“Hey”, kusapa dia
“Aku tadi ke sekolah”
“Ngapain?”
“Nyari kamu”
“Aku gak tahu”
“Sekarang tahu”
“He he he iya”
“Aku pernah meramal kamu nanti akan naik motorku. Ingat?”
“Iya”
“Bantu aku”
“Bantu apa?”
“Mewujudkannya”
“Ha ha ha”
“Mau bantu?”
“Ng…Mau!”
“Aku suruh, atau kau naik sendiri?”
“Suruh!”
“Ikut aku, Lia”
“Kalau gak mau?”
“Kamu ingkar janji”
“Kok?”
“Tadi kamu sudah bilang mau”
“Ha ha ha ha”, aku ketawa sambil naik motornya. Sebelum jalan, Dilan nanya:
“Aku bingung, kubawa jalan-jalan dulu, atau langsung kubalikin ke dealer?”
“Siapa?”
“Kamu”
“Heh? Emangnya aku kendaraan?”
“Ha ha ha ha. Katanya, perempuan gak suka ditanya. Ya udah. Langsung kubawa jalan-jalan aja”
“Kemana?’
“Jangan tahu, gak perlu, yang penting berdua sama kamu”
“He he he. Ini mau jalan apa enggak?”
“Mau, tapi kamu jangan meluk”
“Enggak”
“Kecuali kau mau”
“Ha ha ha mau!!”
Kemudian kami jalan. Itu adalah hari yang kuingat sebagai hari pertama kalinya aku naik motor Dilan. Aku tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk mengungkapkan rasa senangku, mudah-mudahan kamu bisa tahu bagaimana perasaanku. Berdua dengan Dilan, menyusuri jalan Buahbatu, lalu belok kanan ke arah jalan Laswi. Enggak tahu mau dibawa ke mana. Terserah Dilan.
“Sudah makan?”, Dilan nanya
“Perempuan gak suka ditanya”
“Ha ha ha! Oke, kita makan dulu”
“Kemana?”
“Perempuan gak suka ditanya. Lebih suka banyak nanya”
“Ha ha ha ha terserah KAU lah, Gengster!!”
“Ha ha ha”
Akhirnya, kami milih makan bakso, di “Baso Akung”. Itu warung tenda. Dulu lokasinya di jalan Banda, dekat GOR Saparua. Di sana sedang tak banyak orang, maksudnya cuma ada tiga orang sedang makan dan bicara berketawa.
Kami masuk dan kuawali dudukku sambil sebentar memandangnya. Memandang Dilan yang juga mulai akan duduk. Aku nyaris tak percaya bahwa hari itu akan ada: Ah, aku makan berdua dengan Dilan.
Dilan pesan Bakso Kuah, aku pesan Bakso Yamin.
“Aku suka, mereka bisa mengenang pahlawan dengan bakso”, kata Dilan, suaranya pelan berbisik sambil memajukan mukanya agak sedikit ke arahku
“Caranya?”
“Dia namai Bakso Yamin”
“Kok?”
“Aku jadi inget Muhammad Yamin”
“Ha ha ha”.
“He he he”
“Kalau Bakso Kuah?”, kutanya dia
“Itu akan membuat aku ingat……….”
“Ingat apa?”
“Akan membuat aku ingat, ke kamu, aku pernah makan bakso kuah sama kamu, di sini”
“He he he”
Angin berhembus, sedikit agak kencang, memberi kepastian tentang perlunya daun-daun pohon damar itu berguguran, untuk aku merasa romantis dalam kesenduan.   
“Kau lihat orang itu..”, kata Dilan sambil memberi kode, dengan mukanya, untuk aku melihat kepada seorang laki-laki dan wanita berhadapan, yang duduk agak jauh di sana. Mereka baru usai dari makan, dan ngobrol sambil tangannnya berpegangan. Tapi sebelum kutahu maksud Dilan, bakso pesanan sudah datang, dan disimpan di depan kami.
“Kenapa orang itu?”, kutanya dengan suara pelan sambil mulai mengaduk bakso
“Aku suka laki-lakinya”, jawab Dilan sambil mengaduk juga baksonya
“Heh?!”
“Bukan. Laki-lakinya, kayaknya dia gak mau, tangan pacarnya itu hilang”
“Tahunya?”, kataku, dengan suara yang sama pelan, sambil senyum ke dia
“Makanya dia pegang terus”
“Ha ha ha”
“Heeeh…Jangan ketawa”, perintahnya dengan suara pelan lalu menyuapkan makanan ke mulutnya
“Kenapa?”, tanyaku sambil merapikan rambutku.
“Nanti laki-laki itu jadi suka ke kamu”
“Kenapa emang?”, tanyaku sambil menyuapkan makanan, sedikit, karena merasa kikuk makan di depannya
“Ketawamu bagus”
“He he ketawa ah”
“Terserah! Nanti aku berantem dengan dia”
“Karena?”
“Rebutan”
“He he he. Kamu yang menang”
“Karena?”
“Aku ingin kamu yang menang he he he”


Ini lagi di pasar....Hal 243

Kami belanja ini itu. Jalannya becek, sisa hujan subuh tadi. 
“Ini daerah kekuasaan Kang Atot. Aku kenal. Kamu boleh teriak kalau mau”, kata Dilan sambil jalan menuju ke tempat motor diparkir.
“Gak mau………..”, kujawab
“Atau tidur di pasar, mau?”
“Gak!”
“Kamu bisa bilang “Aku sayang kamu” kalau mau”, katanya. Aku sempet terdiam dulu mendengarnya.
“Ke siapa?”, kutanya dia
“Ke aku”
“Kamu dulu”
“Ke siapa?”, dia nanya
“Ke aku lah”
“Bilang apa?”
“Aku sayang kamu”
“Sudah diduluin sama kamu, barusan”
“Ha ha ha ha ha ha”


Ini saat Dilan jadi guidenya Milea karena Milea baru saja pindah ke Bandung........Hal 213-214
Motor melaju dengan pelan di jalan Telaga Bodas. Itu saat Dilan akan mengantar aku pulang
“Itu pohon”, kata Dilan di atas motor, sambil nunjuk satu pohon. Dia memang bilang, saat itu, ingin jadi guideku, katanya biar lebih kenal Bandung
“Wow”, jawabku sambil senyum, pura-pura terperangah seolah aku baru tahu pohon
“Itu langit!”, dia angkat telunjuknya ke atas
“Mendung”
“Iya. Itu Mang Jajang”, Dilan menunjuk tukang dagang di pinggir jalan
“Kamu kenal?”
“Kita namai aja Jajang”
“Ha ha ha”
“Itu uang!”, Dilan nunjuk bapak-bapak yang sedang jalan di trotoar
“Mana?”, kutanya
“Di dalam kantongnya”
“Tahu ada uangnya?”
“Kita anggap begitu”
“Kita anggap uangnya semilyar”
“Jangan, nanti dia kecewa”
“Kenapa?”
“Pas dirogoh, kantongnya kosong”
“Kan kita lagi anggap-anggapan ih!?”
“Dia ingin nyata”
“Ha ha ha”
“Ini kamu”, dia menunjukku dengan mengarahkan telunjuknya ke belakang
“Aku baru tahu”, kataku sambil senyum
“Pemakan lumba-lumba”
“Ha ha ha kamu beneran bilang begitu ke Bunda?”
“Iya”
“Mmm…kamu beneran bilang aku berkumis ke Bunda?”
“Iya”
“Mmmm…..Kamu beneran bilang…..aku pacarmu ke Bunda?’
“Iya”
“Emang kita pacaran?”
“Iya”
Aku langsung diam mendengar dia bilang “iya”. Aku langsung bingung gak tahu aku harus ngomong apa. Bisakah itu kuanggap Dilan sedang nyatain? Bisakah itu kuanggap bahwa dengan sendirinya kami resmi pacaran sejak itu? Ih, Dilan!
Udahan dulu ah.  Kalau ditulis semua yang aku suka, nggak cukup karena hampir semua percakapan mereka aku suka. Hehe

Pidi Baiq karya-karyanya bagus semua J walaupun baru lima buku yang ku baca karena buku yang sudah lama terbit sudah habis di toko buku.  aku nyesel baru tahun 2013 mengetahui ada penulis yang pemikirannya out of the box kenapa nggak dari dulu . Aku tunggu buku berikutnya Surayah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar