Kamis, 11 Desember 2014

Cerpen : Nasihat Seorang Ayah

cerpennya ini sudah bersarang di file kuliah selama 2 minggu yang lalu. aku nulis ini buat tugas mentoring agama. daripada enggak kepake mending di share. jujur, aku selalu bingung menentukan judul dari suatu cerpen. yah jadi seadanya aja ini judul.


Nasihat Seorang Ayah
oleh: Dessy Sumega Dwi Putri

Ku lihat bayangan diriku di cermin. Ku pikir aku sudah cukup cantik dengan rambut lurus tergerai panjang berwarna hitam mengkilat.
Dengan pedenya aku menyisir rambut sambil bertanya dengan diri sendiri “ cantik, kok belum punya pacar juga sih aku ?”
tiba-tiba terdengar suara dari depan pintu “cantik itu pakai hijab ra bukan rambut yang ditampilkan” ternyata suara kakakku.
“pakai hijab itu, perilakunya harus solehah dulu ka” ku sanggah perkataan kakakku.
“kamu salah ra, pakai hijab dulu, lalu dengan perlahan ubah sifat burukmu” kakaku mempertahankan argumennya.
“buktinya banyak tuh teman aku yang berhijab udah bertahun-tahun tapi tetap aja tuh kelakuannya nggak ada yang baik, gosip lah, menyakiti perasaan temannya lah, sombong, punya pacar lagi” kata ku.
“bila kamu belum berhijab dengan alasan hijab belum tentu baik, maka sebaiknya kamu mencontohkan bisa berhijab dan baik perilakunya” kakakku melayangkan nasihat yang sudah ku dengar ratusan kali. Dan aku sudah hapal kalimat itu.
“iya ka, nanti kalau aku sudah siap” ku jawab dengan kalimat yang juga ratusan kali ku katakan.
“siapnya kapan ?, umur sudah tua, 18 tahun belum juga pakai hijab” kata kakakku
“kakakmu benar ra, kamu harus secepatnya menutup aurat, kan kamu sudah berakal” ayahku juga ikut-ikutan menasihati.
“nanti yah” jawabku pelan
“apa kamu pernah dengar tentang sebuah hadist yang mengatakan selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka?” ayah mengatakan sebuah hadist yang diriwayatkan dari tirmidzi dan hakim.
“sudah tahu ayah” jawabku
“kalau begitu kenapa belum berhijab ?, kamu mau bikin rumah buat ayah di neraka ?” ayah ku selalu saja bikin aku tidak bisa berkutik lagi.
“ya enggak lah yah, tapi kan ayah masih di dunia” jawabku
“jadi kamu nunggu ayah meninggal dulu ?” kata kakakku
“sembarangan nih kakak, iya, iya nanti secepatnya”  ku tinggalkan kakak dan ayah ke ruang tengah.
.......................................
Seminggu kemudian.
Tiba-tiba handphone ku berdering.
“hallo, assalamualaikum ka....” belum sempat ku tanya ada apa, tumben nelpon.
“walaikumsallam... ra, cepetan kamu ke rumah sakit” suara kakakku terdengar sangat khawatir
“kenapa ka ?” aku penasaran
“pokoknya kamu cepat ke sini bilang juga sama mama, ayah kecelakaan” kata-kata kakakku membuatku khawatir
“iya ka” ku  tutup panggilannya.
“mama, mama dimana ?” ku teriak mencari mama menuju ke dapur.
“mah, ayah mah, ayah kecelakaan”
“jangan becanda kamu ra” mama kaget tidak percaya
“bener ma, kakak nelpon tadi, suruh kita ke rumah sakit”  aku coba meyakinkan mama
“kalau begitu ayo kita ke rumah sakit sekarang”

*di rumah sakit
“mah, ayah mah” aku dan mama baru sampai rumah sakit, kakakku sudah nangis-nangis.
“kenapa sa ?, ayah kenapa ?” mama tanya dengan nada khawatir.
“kata dokter ayah tidak bisa tertolong lagi” kakakku menangis tersedu-sedu
“maksud kakak apa ?” aku berusaha meyakinkan diri
“Ayah meninggal ra”  kata itu membuat perasaan ku hancur.
Ku pandangi wajah ayah yang pucat dan kupegang tangannya yang sudah dingin kaku.
“ayah , ayah bangun, rara janji yah akan berhijab hari ini juga, ayah bangun” air mata ku menetes membasahi pipiku.Mama dan kakak juga tidak henti-hentinya menangisi kepergiaan ayah.
Sudah sebulan kepergian ayah. Sejak hari ayah meninggal sejak itu juga aku berhijab menutupi auratku sesuai dengan syarii. Aku teringat dengan hadist yang dikatakan ayah dulu. Aku tidak mau membuatkan rumah di neraka untuk ayahku. Aku sangat sayang ayah. Aku tidak tega membuatnya menderita hanya karena aku. Aku ingin ayah di surga ditempatkan di sisi-Nya.
..............................................
                Malam yang gelap disertai hujan, aku terpaksa jalan kaki pulang dari rumah teman, kakak tak menjawab panggilanku. Mungkin kakak lupa untuk menjemputku di rumah temanku. Aku memutuskan untuk lewat jalan tembus melewati gang sempit supaya cepat sampai.  Baru beberapa langkah ku masuk gang itu, ku lihat beberapa laki-laki mabuk ditengah gang. Aku merasakan ketakutan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Karena cuaca dingin disertai gerimis, gang ini sangat sepi. Dengan ketakutan yang sangat, ku lewati gang itu sambil mengucapkan ayat-ayat al-quran dalam hati meminta perlindungan Allah SWT.
Tiba-tiba salah seorang lelaki itu berkata “ada cewek cantik nih lewat”
“jangan lah, nggak sexy dia” kata salah satu temannya.
Kata-kata yang ku dengar tadi membuatku semakin ketakutan dan mempercepat langkah kaki ku meninggalkan mereka. Tak terasa 5 menit aku sudah sampai di depan rumah.
..........................................
                Pagi yang sejuk, ku putuskan untuk menikmati hari sabtu ini dengan menonton televisi. Ku nyalakan tv dan betapa terkejutnya aku saat ada berita yang mengatakan ada pemerkosaan seorang gadis oleh beberapa lelaki di gang yang ku lewati malam tadi. Kucermati berita itu, yang membuatku lebih terkejut lagi, waktu kejadiaan  yang hampir sama saat aku melewati gang itu, cuma berselang sekitar 10 menit  saat aku sampai rumah malam itu.
Mamaku datang dan duduk disampingku.
“ada apa ra? serius sekali nonton beritanya” tanya mama
“ini ma, ada pemerkosaan di gang dekat rumah malam tadi padahal rara juga lewat gang itu sebelum pemerkosaan itu” ku jelaskan dengan mama kejadian malam itu
“kamu lihat pelakunya?” tanya mama
“iya ma, rara lihat saat itu mereka lagi mabuk, yang rara bingung kenapa rara nggak diganggu oleh mereka juga?”
“mungkin mereka melihat kamu berhijab, jadi mereka nggak mau ganggu kamu” kata mama menyimpulkan
“oh ya ma? Jadi hijab ini bikin aku terlindungi ?”  kataku yakin
“iya rara” mama meninggalkan ku ke dapur.
Aku terpikir jawaban mama tadi. Aku baru menyadari manfaat berhijab, bukan menyadari saja tapi sekarang aku sudah merasakan salah satu manfaat dari berhijab. Aku akan menunggu manfaat lainnya dari berhijab.
............................
                Manfaat hijab jika didengungkan ke telinga orang-orang yang merasa belum mendapatkan hidayah dari Allah untuk berhijab mungkin hanya jadi angin lalu saja.  Hidayah itu bukan untuk ditunggu tapi diusahakan secepatnya. Pakailah hijabmu dan rasakan manfaatnya.
Kata salah seorang ustadz di tweet nya @felixsiauw
Bila ada orang baik tapi belum berhijab juga, nasihatilah dia untuk berhijab agar bertambah kebaikannya.

Bila ada orang berhijab tapi masih maksiat jua, nasihatilah dia untuk meninggalkan maksiat tanpa bawa-bawa hijabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar