cerpennya ini sudah bersarang di file kuliah selama 2 minggu yang lalu. aku nulis ini buat tugas mentoring agama. daripada enggak kepake mending di share. jujur, aku selalu bingung menentukan judul dari suatu cerpen. yah jadi seadanya aja ini judul.
Nasihat Seorang Ayah
oleh: Dessy Sumega Dwi Putri
Ku lihat
bayangan diriku di cermin. Ku pikir aku sudah cukup cantik dengan rambut lurus
tergerai panjang berwarna hitam mengkilat.
Dengan pedenya aku menyisir
rambut sambil bertanya dengan diri sendiri “ cantik, kok belum punya pacar juga
sih aku ?”
tiba-tiba terdengar suara dari
depan pintu “cantik itu pakai hijab ra bukan rambut yang ditampilkan” ternyata
suara kakakku.
“pakai hijab itu, perilakunya
harus solehah dulu ka” ku sanggah perkataan kakakku.
“kamu salah ra, pakai hijab dulu,
lalu dengan perlahan ubah sifat burukmu” kakaku mempertahankan argumennya.
“buktinya banyak tuh teman aku
yang berhijab udah bertahun-tahun tapi tetap aja tuh kelakuannya nggak ada yang
baik, gosip lah, menyakiti perasaan temannya lah, sombong, punya pacar lagi”
kata ku.
“bila kamu belum berhijab dengan
alasan hijab belum tentu baik, maka sebaiknya kamu mencontohkan bisa berhijab
dan baik perilakunya” kakakku melayangkan nasihat yang sudah ku dengar ratusan
kali. Dan aku sudah hapal kalimat itu.
“iya ka, nanti kalau aku sudah
siap” ku jawab dengan kalimat yang juga ratusan kali ku katakan.
“siapnya kapan ?, umur sudah tua,
18 tahun belum juga pakai hijab” kata kakakku
“kakakmu benar ra, kamu harus
secepatnya menutup aurat, kan kamu sudah berakal” ayahku juga ikut-ikutan
menasihati.
“nanti yah” jawabku pelan
“apa kamu pernah dengar tentang
sebuah hadist yang mengatakan selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa
menutup aurat maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka?” ayah
mengatakan sebuah hadist yang diriwayatkan dari tirmidzi dan hakim.
“sudah tahu ayah” jawabku
“kalau begitu kenapa belum
berhijab ?, kamu mau bikin rumah buat ayah di neraka ?” ayah ku selalu saja
bikin aku tidak bisa berkutik lagi.
“ya enggak lah yah, tapi kan ayah
masih di dunia” jawabku
“jadi kamu nunggu ayah meninggal
dulu ?” kata kakakku
“sembarangan nih kakak, iya, iya
nanti secepatnya” ku tinggalkan kakak
dan ayah ke ruang tengah.
.......................................
Seminggu kemudian.
Tiba-tiba handphone ku berdering.
“hallo, assalamualaikum ka....”
belum sempat ku tanya ada apa, tumben nelpon.
“walaikumsallam... ra, cepetan
kamu ke rumah sakit” suara kakakku terdengar sangat khawatir
“kenapa ka ?” aku penasaran
“pokoknya kamu cepat ke sini
bilang juga sama mama, ayah kecelakaan” kata-kata kakakku membuatku khawatir
“iya ka” ku tutup panggilannya.
“mama, mama dimana ?” ku teriak
mencari mama menuju ke dapur.
“mah, ayah mah, ayah kecelakaan”
“jangan becanda kamu ra” mama
kaget tidak percaya
“bener ma, kakak nelpon tadi,
suruh kita ke rumah sakit” aku coba
meyakinkan mama
“kalau begitu ayo kita ke rumah
sakit sekarang”
*di rumah sakit
“mah, ayah mah” aku dan mama baru
sampai rumah sakit, kakakku sudah nangis-nangis.
“kenapa sa ?, ayah kenapa ?” mama
tanya dengan nada khawatir.
“kata dokter ayah tidak bisa
tertolong lagi” kakakku menangis tersedu-sedu
“maksud kakak apa ?” aku berusaha
meyakinkan diri
“Ayah meninggal ra” kata itu membuat perasaan ku hancur.
Ku pandangi wajah ayah yang pucat
dan kupegang tangannya yang sudah dingin kaku.
“ayah , ayah bangun, rara janji
yah akan berhijab hari ini juga, ayah bangun” air mata ku menetes membasahi
pipiku.Mama dan kakak juga tidak henti-hentinya menangisi kepergiaan ayah.
Sudah sebulan
kepergian ayah. Sejak hari ayah meninggal sejak itu juga aku berhijab menutupi
auratku sesuai dengan syarii. Aku teringat dengan hadist yang dikatakan ayah
dulu. Aku tidak mau membuatkan rumah di neraka untuk ayahku. Aku sangat sayang
ayah. Aku tidak tega membuatnya menderita hanya karena aku. Aku ingin ayah di
surga ditempatkan di sisi-Nya.
..............................................
Malam
yang gelap disertai hujan, aku terpaksa jalan kaki pulang dari rumah teman,
kakak tak menjawab panggilanku. Mungkin kakak lupa untuk menjemputku di rumah
temanku. Aku memutuskan untuk lewat jalan tembus melewati gang sempit supaya
cepat sampai. Baru beberapa langkah ku
masuk gang itu, ku lihat beberapa laki-laki mabuk ditengah gang. Aku merasakan
ketakutan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Karena cuaca dingin disertai
gerimis, gang ini sangat sepi. Dengan ketakutan yang sangat, ku lewati gang itu
sambil mengucapkan ayat-ayat al-quran dalam hati meminta perlindungan Allah
SWT.
Tiba-tiba salah seorang lelaki
itu berkata “ada cewek cantik nih lewat”
“jangan lah, nggak sexy dia” kata
salah satu temannya.
Kata-kata yang ku dengar tadi
membuatku semakin ketakutan dan mempercepat langkah kaki ku meninggalkan
mereka. Tak terasa 5 menit aku sudah sampai di depan rumah.
..........................................
Pagi
yang sejuk, ku putuskan untuk menikmati hari sabtu ini dengan menonton
televisi. Ku nyalakan tv dan betapa terkejutnya aku saat ada berita yang
mengatakan ada pemerkosaan seorang gadis oleh beberapa lelaki di gang yang ku lewati
malam tadi. Kucermati berita itu, yang membuatku lebih terkejut lagi, waktu
kejadiaan yang hampir sama saat aku
melewati gang itu, cuma berselang sekitar 10 menit saat aku sampai rumah malam itu.
Mamaku datang dan duduk
disampingku.
“ada apa ra? serius sekali nonton
beritanya” tanya mama
“ini ma, ada pemerkosaan di gang
dekat rumah malam tadi padahal rara juga lewat gang itu sebelum pemerkosaan
itu” ku jelaskan dengan mama kejadian malam itu
“kamu lihat pelakunya?” tanya
mama
“iya ma, rara lihat saat itu
mereka lagi mabuk, yang rara bingung kenapa rara nggak diganggu oleh mereka
juga?”
“mungkin mereka melihat kamu
berhijab, jadi mereka nggak mau ganggu kamu” kata mama menyimpulkan
“oh ya ma? Jadi hijab ini bikin
aku terlindungi ?” kataku yakin
“iya rara” mama meninggalkan ku
ke dapur.
Aku terpikir jawaban mama tadi.
Aku baru menyadari manfaat berhijab, bukan menyadari saja tapi sekarang aku
sudah merasakan salah satu manfaat dari berhijab. Aku akan menunggu manfaat
lainnya dari berhijab.
............................
Manfaat
hijab jika didengungkan ke telinga orang-orang yang merasa belum mendapatkan
hidayah dari Allah untuk berhijab mungkin hanya jadi angin lalu saja. Hidayah itu bukan untuk ditunggu tapi
diusahakan secepatnya. Pakailah hijabmu dan rasakan manfaatnya.
Kata salah seorang ustadz di
tweet nya @felixsiauw
Bila ada orang baik tapi belum
berhijab juga, nasihatilah dia untuk berhijab agar bertambah kebaikannya.
Bila ada orang berhijab tapi
masih maksiat jua, nasihatilah dia untuk meninggalkan maksiat tanpa bawa-bawa
hijabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar