Kamis, 18 Desember 2014

Kehidupan jauh dari orang tua

Demi kuliah, ku tinggal mama dan adikku di rumah berdua. Ku pergi ke kota orang (masih belum terlalu jauh juga sih, Cuma beda 1 jam perjalanan) hanya demi kuliah. Mama ku menunggu kelulusanku 4 tahun lagi (amiin..) dengan gelar sarjana farmasi dan aku berharap langsung bisa melanjutkan pendidikan profesi apoteker setahun kemudian (amiin..). Itu berarti aku harus kesepian selama 5 tahun. Aku menumpang di rumah keluarga tapi mendiami rumah tersebut sendirian. Cuma sesekali kakak sepupu menginap. Kompleknya sepi lagi, bukan rumahnya yang sedikit, rumahnya banyak tapi orang-orangnya pada sibuk semua, jarang keluar dari rumah. Berbagai kesulitan terjadi selama hidup sendiri di kota orang. Mulai dari gagang pintu yang patah (menurutku bukan aku yang kuat, memang gagangnya aja yang gak kuat, hehehe), mesin air yang rusak, antena televisi yang roboh dan bola lampu yang mati. Dilihat dari masalahnya aku nggak mungkin bisa memperbaiki sendiri. Iya, harus mencari tukang untuk memperbaikinya.

Di kota  kelahiran selalu ada keluarga yang membantu apa aja, tapi di kota orang , teman adalah keluarga. Banyak bantuan teman yang sangat berarti bagiku. Dari membantu membeli dan mengangkat galon minum, menginap di  rumahnya buat ngerjain laporan praktikum (jadi aku ngak harus di rumah sendirian), numpang mandi di kostnya (karena sumur kering), sampai kalau banyak tempat print yang tutup, selalu ngeprint di tempatnya. Terima kasih teman-teman yang sangat membantu.
Dulu cuci baju pakai mesin cuci, sekarang pakai tangan. Capek kalau cucian menumpuk selama 5 hari. Dulu cuci piring kadang-kadang aja, sekarang sering banget. Dulu males ke pasar, sekarang harus ke pasar. Dulu beli apa aja jarang mikir, sekarang harus banyak-banyak mikir, nanti ke banyakan ambil duit di atm.
Banyak perbedaan kota kelahiran ku dengan kota kuliah ku. Di banjarmasin cuacanya panas sekali di banjarbaru tidak terlalu panas. Alhamdulillah. Di banjarmasin lalu lintasnya padat, di banjarbaru jalanan masih sepi, alhamdulillah aku ngak pernah telat pergi kuliah (tidak seperti SMA dulu, sering banget telatnya, padahal rumah dekat sekolah). Rumah saat ini juga dekat dengan kampus, kalau cepat bisa 5 menit perjalanan kalau lambat mungkin 10 menit. Yang sangat terasa sekali perbedaannya yaitu di banjarmasin banyak lampu lalu lintas di banjarbaru ngak ada lampu lalu lintas di dalam kotanya. Lampu lalu lintas cuma di jalan utama, itu juga sedikit sekali. Jadi ingat pengalaman ditilang polisi deh. Selama 3 bulan aku kuliah bolak-balik bjm-bjb-bjm-bjb (selama 1 hari), dari rumah bjm terus kuliah matematika dan statistika farmasi di bjb terus praktikum anatomi manusia di laboratorium anatomi fakultas kedokteran unlam bjm terus kuliah agama di bjb . Karena keseringan di bjb tanpa lampu lalu lintas, sebulan yang lalu akhirnya aku tidak memperhatikan lagi dengan lampu lalu lintas di bjm yang berwarna merah . Dan ditilang polisi deh. Itu adalah pengalaman pertama ditilang polisi.

Semangat nunggu 5 tahun lagi... tidak hanya menunggu tapi berjuang dan berdoa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar