Love Or Friendship ? (Part 3, The last Part)
oleh: Dessy S
Sesampainya di taman, mata ku sibuk mencari sosok Kevin.
“Laura” seseorang yang ku cari akhirnya muncul dengan senyumnya. Dia memanggil
namaku dengan suara nyaring. Aku berjalan menghampirinya .“maaf ya Vin, sudah lama nunggu ya ?” kataku khawatir dan duduk di sampingnya .
“ enggak lama kok”
“oh ya, kamu mau ngomong apa ?” ku tatap matanya yang teduh.
"begini Ra, papa ku pindah tugas lagi ke luar kota, jadi aku juga ikut pindah sekolah . jadi aku kesini mau pamit sama kamu. Thanks banget ya atas semua kebaikanmu. Mungkin ini terakhhir kalinya kita ketemu.” Kevin terlihat menyesal. “hah ?.jangan bilang gitu. Kita akan ketemu lagi kok. jangan lupakan aku ya Vin” aku kaget tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa.
“Aku ngak akan lupakan kamu kok, tapi kan kita masih bisa telpon-telponan” katanya menenangkanku.
“oh ya, tentang penerbitan ceritamu , maaf ya aku ngak bisa temani kamu urus itu. Aku sudah bilang dengan penerbitnya. Katanya kamu bisa langsung ketemuan dengannya tanpa harus perantara aku. Dan sebentar lagi , kira-kira 3 hari lagi ceritamu akan sah diterbitkan”
“makasih ya Vin, kamu sudah luangkan waktu untuk itu. Aku bisa kok urus sendiri”
Suasana mulai sepi. Hanya suara angin berhembus mengenai dedaunan di taman.
Udaranya dingin. Sedingin hatiku saat ini. Aku bingung dengan perasaanku. Baru saja
aku dekat dengan seseorang yang ku suka , tapi tiba-tiba Tuhan menjauhkan kami.
“Aku sayang sama kamu Vin , jangan tinggalkan aku” kata ku setengah
berbisik.“Ra , aku ngak ninggalkan kamu, kita cuma terhalang oleh jarak” kata-katanya menguatkan ku dan dia memegang tanganku.
“Ra, ini sudah larut malam, aku antar kamu pulang ya”
“aku ngak mau jauh dari kamu Vin. Aku cuma mau disini sama kamu.” Aku tak tahan harus berpisah dengan Kevin. “Ra, Percaya lah , kita ketemu lagi kok suatu saat nanti”
Kevin pun menarik tanganku, sehingga memaksaku untuk berdiri dan berjalan meninggalkan taman.
.............................................
Hari-hari ,ku jalani tanpa Kevin dan tanpa sahabatku juga. Tiara masih
marah denganku. Seakan hari-hari ku, dihiasi langit mendung dan gerimis hujan. Kadang
aku menangis sendirian dikamar. Memikirkan Kevin yang ku kirimi sms tak
dibalas, ku telpon tak diangkat . hingga suatu hari nomornya tidak aktif lagi. Tidak
ada lagi sahabatku yang peduli denganku mengerti perasaanku . Hingga suatu hari
Farel datang menghampiriku di taman."Hai Ra, mau es krim ?” Farel duduk disampingku sambil menyodorkan es krim.
“mau, makasih ya Rel” ku ambil es krimnya.
“Ra , jujur , aku ngak enak berada diantara kalian yang lagi saling membenci. Aku jadi serba salah berada di pihak mana. Baikan lagi dong dengan Tiara. ” Farel memulai pembicaraan.
“Aku juga sekarang merasa sendirian , aku mau balikan lagi kaya dulu, tapi aku bingung bagaimana minta maaf dengan Tiara. Setiap aku mau minta maaf, dia selalu menjauh.” Kataku putus asa. “nanti aku bantu deh minta maafnya. Yang penting kamu udah ada niat. Semangat dong.” Kata Farel menyemangatiku.
“Aku ngak bisa semangat lagi Rel, Kevin ngak balas sms ku, ku telpon tak diangkat dan sekarang nomornya tidak aktif lagi”
“berarti dia ngak serius sama kamu Ra” kata Farel.
“bukan masalah itu, aku sudah menerima kepergiannya kok. Tapi sekarang masalahnya. Dia pernah bilang saat dia mau pergi, tiga hari lagi ceritaku mau terbit. Tapi sampai sekarang ngak terbit, aku sudah datang ke kantor penerbitnya , ternyata kantornya ditutup. Dan semua tabunganku untuk kuliah sudah ku pakai untuk biaya penerbitan.aku ngak tahu harus nelpon kemana lagi.”
“kayanya kamu ditipu deh Ra, setahuku biaya penerbitan semuanya ditanggung sama penerbit”
“Ya , aku baru menyadari itu. Sekarang aku bingung. 2 bulan lagi kita mau lulus.tapi tabungan kuliahku sudah ludes.” Aku benar-benar putus asa
“kalau soal itu, aku bisa bantu kamu kok. Tenang aja. Semangat dong” kata Farel dengan senyumnya yang tulus.
Dengan refleks , tanganku merangkul ke pundak Farel, Farel terkejut dan
akhirnya dia menerima lalu merangkul punggungku. “makasih ya Rel” kataku tulus.
.........................................
Dua bulan pun berlalu. Aku dan Tiara akhirnya baikan karena bantuannya
Farel. Kami bertiga juga sudah lulus dari SMA dengan nilai yang memuaskan. Dan hebatnya
lagi kami bertiga bisa pegang janji persahabatan. Kami tidak akan punya pacar
sampai lulus SMA. Aku juga sudah menerbitkan kumpulan cerpenku atas bantuannya
Farel. Saat kuliah Tiara akhirnya menemukan pujaan hatinya dan mulai menjalin
hubungan. Sedangkan aku dan Farel masih ngak punya pacar. Suatu hari di kampus
aku dan Farel kumpul di Kantin.
“Ra, asik ya Tiara sudah punya pacar. Kita kapan ya dapat pacar ?”
“iya, hpnya selalu bunyi , sedangkan hp kita kaya kuburan , paling saat
bunyi , yang sms kalau ngak operator atau kalian. Nasib,nasib”“gimana kalau kita pacaran aja ?” Farel menantangku.
“Rel , jangan becanda.”
“Aku ngak becanda Ra , aku serius , duarius, tigarius kalau perlu seratusrius ”
“Ayo, aku juga serius” ku terima tantangannya Farel.
“Tapi gimana status kita sebagai sahabat Ra?” Farel bingung.
“Tenang aja, status kita sekarang rangkap dua, sahabat sekaligus pacar” kataku sambil tertawa. Farel pun ikut tertawa. Kami jalani hari-hari dengan status rangkap dua. Kita ngak pernah tahu sahabat kita akan jadi apa dalam hidup kita. Sahabat selalu menolong kita di saat kita dalam kesusahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar