oleh : Dessy S
Semilir angin menghembus mengenai badanku
yang mungil ini. Matahari sudah mulai enggan menyinariku . Matahari mulai terbenam di
balik langit yang indah itu. Air laut bergerak membentuk gelombang-gelombang
nan indah.
Ku
duduk di atas pasir bersama dua sahabatku , Tiara dan Farel , menikmati liburan akhir semester di Pulau
Dewata Bali. Ku tuliskan nama kedua sahabatku dan namaku di pasir dengan
jemariku. Gelombang laut mencapai tempat kami duduk, menghapus tulisan diatas
pantai pasir kuta.
“Laura , yuk kita pulang ke hotel , sudah
puaskan have fun nya ?” Tiara sudah lelah seharian main-main di pantai.
“Aku masih mau nikmati matahari terbanam, kalau kamu
udah capek , duluan aja.“ Ku memandang ke sekeliling pantai. Suasana sudah mulai sepi , hanya segelintir
orang yang masih bertahan.
“Ya sudah , aku duluan aja ya. Farel ,
tolong jagain Laura “ Tiara menatap Farel.
“Oke bos” Farel menyahut.“ngak usah Rel, aku bisa pulang sendiri kok, yang ada jagain Tiara aja, nanti dia ketemu cowok lalu dia melanggar peraturan geng jombloers “ ku tepuk pundak Farel lalu tertawa bersama.
Farel berusaha menakuti ku dengan cerita-cerita hantunya.“Ya sudah kita duluan ya Ra, hati-hati ya di pantai sendiri udah mau malam lagi, nanti ada sesosok berbaju putih datang kepadamu dan………..” Ku potong kata-katanya Farel “ih kamu , nakutin aku terus , udah pergi sana.” Ku usir kedua sahabatku. Mereka pun berlalu meninggalkanku.
Langit sudah mulai gelap, menenggelamkan
cahaya matahari dan menggantikannya dengan cahaya bulan dan bintang-gemintang.
Ku buka catatanku , menuliskan apa yang ada dipikiranku. Dengan diterangi
cahaya bulan , cerita-cerita fiksi yang ada dipikiranku tertuang ke buku
kecilku.Betapa asyiknya ku mennulis sampai tak kusadari seseorang sudah duduk
di sampingku . seseorang yang belum ku kenal mengatakan sesuatu.
“Suka nulis cerita ya ?, kenapa masih belum pulang?,
sudah malam kan “ dia mengagetkanku, aku tersentak. Ku kira hantu yang
diceritakan Farel memang benar ada , karena dia memakai baju putih.
“Iya, aku suka nulis
cerita tapi buat iseng-iseng aja sih. Buat dinikmati sendiri aja. Oh, aku lagi
nikmati suasana pantai, mumpung liburan ke pantai. “ sahutku.
Pikirku, nih cowok kok
sok kenal sok dekat tapi kalau dilihat-lihat nih cowok gagah banget dengan senyum
manisnya. Pikiranku berkecamuk. Dia menyadarkan ku dari lamunanku.“ Hei, kok melamun sih , namaku Kevin, namamu ?”.Kevin menyodorkan tangannya kepadaku “Namaku Laura” ku jabat tangan Kevin sebagai tanda perkenalan kami.
“Boleh ku lihat ceritanya ?” Kevin menatapku dengan matanya yang hitam pekat.
“Boleh, ini” ku sodorkan buku kecilku.
Kevin membaca setiap
ceritaku sambil mengomentarinya dengan sesekali tertawa. Hampir selama
30 menit ku hanya mendengar komentarnya dan tawanya.
“Seru banget nih cerita,
harusnya cerita ngak disimpan sendiri aja. Tapi ditunjukan ke dunia “ Kevin
menutup buku kecil itu. Seulas senyum pun terukir di wajahku mendengar pujian Kevin.“Ah, biasa aja kali, ceritanya nya biasa aja, ngak ada yang spesial “ aku merendahkan diri.
"Sudah pernah dikirim ke penerbit belum?” Kevin menatapku lagi.
“Belum sih, ku rasa ngak ada penerbit yang mau menerbitkannya. Aku aja belum pernah ikut kompetisi apalagi kirim ke majalah ” ku menundukan kepala , putus asa sebelum mencoba.
“Jangan pesimis dulu , beneran ceritamu ini bagus. Kebetulan aku kenal baik dengan salah satu penerbit di Jakarta, boleh aku mengirimkan ceritamu ?”
“Serius?” aku ngak yakin.
“Iya serius , tapi boleh aku bawa dulu ngak bukunya?. Kebetulan 2 hari lagi aku pindah ke Jakarta. Nanti aku kabari kamu kalau ada konfirmasi dari penerbit.”
“Oke” sahutku tanda setuju . Anehnya aku kok percaya sama orang yang baru kenal “Ya sudah . Berapa nomer handphoonemu ?”
“081953765432” ku eja angka per angka.
“Sudah malam nih , ku pulang dulu ya vin “ baru ku sadari telah hampir 1 jam ngobrol dengan Kevin lalu ku putuskan untuk pulang.
.............................................
2 hari kemudian geng Jombloers pulang ke habitat asal , kota
Jakarta.
Suara ayam tetangga
berkokok , menandakan hari sudah pagi. Aku pun siap-siap berangkat sekolah. Baru
saja ku buka pintu rumah, ternyata Farel sudah menungguku di depan pagar
rumahku.“Pagi Laura” kata Farel. Rumah Farel jaraknya hanya 5 rumah saja dari rumahku. Sebagai sahabat baik ku. Dia selalu bareng dengan ku pergi ke sekolah.
“Pagi juga Farel” ku balas sapaanya sambil membuka kunci pagar. Hanya butuh 10 menit jalan kaki, aku dan Farel sampai di gerbang sekolah.
Tiba-tiba dari belakang Tiara menepuk pundak kami “Hai, Laura dan Farel”
“Hai Ra “ sahutku dan Farel.
“Kita ke kelas yuk , kabarnya ada anak baru .“ Tiara selalu membawa kabar heboh , entah benar atau tidak , dia selalu heboh.
......................................
Guru fisika masuk ke
kelas kami bersama seorang cowok .
“Anak-anak, kita
kedatangan siswa baru” kata bu Mirna.
“Hallo teman-teman,
namaku Kevin, pindahan dari Bali “ kavin memperkenalkan dirinya.“Ra, Rel . itukan cowok yang ketemu dengan ku di Bali “ aku terkejut lalu menunjuk Kevin.
“Hah, kamu sudah pernah ketemu ? Ganteng banget ya “ Tiara terkagum-kagum , seakan Tiara terhipnotis oleh aura Kevin.
“Iya dong, bahkan aku sudah kenalan , tukaran nomer Hp lagi “ kataku sombong.
“Ih, kamu curang. Kok ngak ajak-ajak aku” Tiara iri.
“Siapa suruh pulang duluan.” Aku tertawa
“Masih gantengan aku lagi “ Farel menyahut dari kursi belakang.
“Ih, Farel kepedean , buktinya aku dan Laura ngak pernah tuh tertarik sama kamu “ Kata Tiara sambil menghadap ke belakang.
“itu kan karena kita sudah buat perjanjian.” Sahut Farel ngak mau kalah.
Tiara dan Farel masih berdebat sampai tidak menyadari bu Mirna sudah ada di samping mereka. Tiba-tiba suara bu Mirna meninggi.
“ Tiara , Farel . apa hubungannya jarak dan kecepatan ?” Sontak mereka kaget lalu Tiara berkata tanpa berpikir.
“Hubungan mereka baik-baik aja bu.” Kata-kata Tiara membuat seluruh isi kelas tertawa terpingkal-pingkal termasuk diriku. Lalu Tiara sadar bahwa yang menanyakan Ibu Mirna dan langsung menutup mulut dengan tangannya.
“Makanya Ra, sebelum jawab pikir dulu “ kata ku sambil tertawa
“Tiara, Ibu lagi menjelaskan, kamu jangan bicara sama teman “ Bu Mirna menatap Tiara dengan tatapan tajam
cerita sesudahnya klik di sini (part 2)
(part 3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar